Rabu, 18 September 2013

Buku-buku Puisi karya Rendra

Stanza dan Blues
Stanza dan blues
Potret Pembangunan dalam Puisi
Potret Pembangunan dalam Puisi
Disebabkan oleh Angin
Disebabkan oleh Angin
Empat Kumpulan Sajak
Empat Kumpulan Sajak
Mencari Bapa
Mencari Bapa
Perjalanan Bu Aminah
Perjalanan Bu Aminah

BUKU BYUKU RENDRA

Sadjak-Sadjak Sepatu Tua
Sadjak-sadjak Sepatu Tua

Ballada Orang-Orang Tercinta
Ballada Orang-orang Tercinta

Blues untuk Bonnie
Blues untuk Bonnie

Puisi-Puisi Rendra
Puisi-Puisi Rendra

RENDRA WS PROFILE

W.S. Rendrabornin Solo, Indonesia November 07, 1935diedAugust 07, 2009gendermalegenrePoetryNonfiction
About this authoredit dataWillibrordus Surendra Broto Rendra (b. November 7 1935) is a famous Indonesian poet who often called by his friends and fans as "The Peacock".He established the Teater Workshop in Yogyakarta during 1967 but also the Teater Rendra Workshop in Depok.His photo here shown Rendra in his room at 1969.
Theatres:* Orang-orang di Tikungan Jalan (1954)* SEKDA (1977)* Mastodon dan Burung Kondor (1972)* Hamlet (Translated from Hamlet by William Shakespeare)* Macbeth (Translated from Macbeth from William Shakespeare)* Oedipus Sang Raja (Translated from Oedipus Rex by Sophokles)* Kasidah Barzanji* Perang Troya Tidak Akan Meletus (Translated from La Guerre de Troie n'aura pas lieu by Jean Giraudoux)Poems:* Jangan Takut Ibu* Balada Orang-Orang Tercinta * Empat Kumpulan Sajak* Rick dari Corona* Potret Pembangunan Dalam Puisi* Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta!* Nyanyian Angsa* Pesan Pencopet kepada Pacarnya* Rendra: Ballads and Blues Poem * Perjuangan Suku Naga* Blues untuk Bonnie* Pamphleten van een Dichter* State of Emergency* Sajak Seorang Tua tentang Bandung Lautan Api* Mencari Bapak* Rumpun Alang-alang* Surat Cinta* Sajak Rajawali* Sajak Seonggok Jagung(less)
Author profile

KECOA PEMBANGUNAN, RENDRA MENOLAK KORUPSI

KECOA PEMBANGUNAN

Kecoa Pembangunan….Salah dagang banyak hutang…….Tata bukunya di tulis di awan…Tata ekonominya ilmu bintang..kecoa…kecoa…ke…co…a…..
Menjadi pencuri….
kecoa…kecoa… ke…co…a….
Merampok negeri ini….
Kecoa…kecoa…ke…co…a…
Hutang pribadi di anggap Hutang Bangsa…
Suara di bungkam agar Dosa Berkuasa…
Kecoa….kecoa… ke…co…a…
Gangsir Bank…
Gangsir Bank, Kenyataannya….
Kecoa…kecoa…ke…co…a…
Marsinah terbunuh, petani di gusur, kenyataannya….
Kecoa Pembangunan,
Kecoa bangsa dan negara
Lebih berbahaya ketimbang raja singa
Lebih berbahaya ketimbang pelacuran
Kabut gelap masa depan,
Kemarau panjang bagi harapan
Kecoa…kecoa… ke…co…a….
Nyatanya macan kandang….
Ngakunya bisa dagang,
Nyatanya banyak hutang
Kecoa…kecoa…ke..co…a…
Kata buku dua versi…
Katanya pemerataan,
Nyatanya monopoli
kecoa…kecoa…ke…co..a…

Dengan senjata monopoli
Dilindungi kekuasaan…
Ngimpi nglindur di sangka Pertumbuhan…
Stabilitas, stabilitas katanya…
Keamanan, ketenangan katanya…
Ngakunya konglomerat
Paspornya empat,

Orang-orang Miskin , WS Rendra

Orang-orang Miskin
Orang-orang miskin di jalan,
yang tinggal di dalam selokan,
yang kalah di dalam pergulatan,
yang diledek oleh impian,
janganlah mereka ditinggalkan.
Angin membawa bau baju mereka.
Rambut mereka melekat di bulan purnama.
Wanita-wanita bunting berbaris di cakrawala,
mengandung buah jalan raya.
Orang-orang miskin. Orang-orang berdosa.
Bayi gelap dalam batin. Rumput dan lumut jalan raya.
Tak bisa kamu abaikan.
Bila kamu remehkan mereka,
di jalan kamu akan diburu bayangan.
Tidurmu akan penuh igauan,
dan bahasa anak-anakmu sukar kamu terka.
Jangan kamu bilang negara ini kaya
karena orang-orang berkembang di kota dan di desa.
Jangan kamu bilang dirimu kaya
bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.
Lambang negara ini mestinya trompah dan blacu.
Dan perlu diusulkan
agar ketemu presiden tak perlu berdasi seperti Belanda.
Dan tentara di jalan jangan bebas memukul mahasiswa.
Orang-orang miskin di jalan
masuk ke dalam tidur malammu.
Perempuan-perempuan bunga raya
menyuapi putra-putramu.
Tangan-tangan kotor dari jalanan
meraba-raba kaca jendelamu.
Mereka tak bisa kamu biarkan.
Jumlah mereka tak bisa kamu mistik menjadi nol.
Mereka akan menjadi pertanyaan
yang mencegat ideologimu.
Gigi mereka yang kuning
akan meringis di muka agamamu.
Kuman-kuman sipilis dan tbc dari gang-gang gelap
akan hinggap di gorden presidenan
dan buku programma gedung kesenian.
Orang-orang miskin berbaris sepanjang sejarah,
bagai udara panas yang selalu ada,
bagai gerimis yang selalu membayang.
Orang-orang miskin mengangkat pisau-pisau
tertuju ke dada kita,
atau ke dada mereka sendiri.
O, kenangkanlah :
orang-orang miskin
juga berasal dari kemah Ibrahim

MENOLAK KORUPSI? RENDRA PERNAH BACAKAN PUISINYA LANGSUNG DI DPR 18 MEI 1998

Aku tulis sajak ini di bulan gelap raja-raja

Bangkai-bangkai tergeletak lengket di aspal jalan
Amarah merajalela tanpa alamat
Kelakuan muncul dari sampah kehidupan
Pikiran kusut membentur simpul-simpul sejarah

O, zaman edan!
O, malam kelam pikiran insan!
Koyak moyak sudah keteduhan tenda kepercayaan
Kitab undang-undang tergeletak di selokan
Kepastian hidup terhuyung-huyung dalam comberan

O, tatawarna fatamorgana kekuasaan!
O, sihir berkilauan dari mahkota raja-raja!
Dari sejak zaman Ibrahim dan Musa
Allah selalu mengingatkan
bahwa hukum harus lebih tinggi
dari ketinggian para politisi, raja-raja, dan tentara

O, kebingungan yang muncul dari kabut ketakutan!
O, rasa putus asa yang terbentur sangkur!
Berhentilah mencari Ratu Adil!
Ratu Adil itu tidak ada. Ratu Adil itu tipu daya!
Apa yang harus kita tegakkan bersama
adalah Hukum Adil
Hukum Adil adalah bintang pedoman di dalam prahara

Bau anyir darah yang kini memenuhi udara
menjadi saksi yang akan berkata:
Apabila pemerintah sudah menjarah Daulat Rakyat
apabila cukong-cukong sudah menjarah ekonomi bangsa
apabila aparat keamanan sudah menjarah keamanan
maka rakyat yang tertekan akan mencontoh penguasa
lalu menjadi penjarah di pasar dan jalan raya

Wahai, penguasa dunia yang fana!
Wahai, jiwa yang tertenung sihir tahta!
Apakah masih buta dan tuli di dalam hati?
Apakah masih akan menipu diri sendiri?
Apabila saran akal sehat kamu remehkan
berarti pintu untuk pikiran-pikiran kalap
yang akan muncul dari sudut-sudut gelap
telah kamu bukakan!

Cadar kabut duka cita menutup wajah Ibu Pertiwi
Airmata mengalir dari sajakku ini.


======
Sajak ini dibuat di Jakarta pada tanggal 17 Mei 1998 dan
dibacakan Rendra di DPR pada tanggal 18 Mei 1998

WS Rendra menjelang kepergiannya

Aku lemas, Tapi berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit
atau gatal
Aku pengin makan tajin
Aku tidak pernah sesak nafas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
untuk punya posisi yang ideal dan wajar
Aku pengin membersihkan tubuhku
dari racun kimiawi
Aku ingin kembali pada jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian
kepada Allah
Tuhan, aku cinta padamu.

MENGENANG WS RENDRA

Penyair kawakan, bernama Willibrordus Surendra Broto Rendra dikenal W.S.Rendra setelah memeluk agama Islam tahun 1970. Lengkapnya Wahyu Sulaiman Rendra. Ia dijuluki si Burung Merak. Kelahiran 7 November 1935 di Solo, Jawa Tengah.
Sederetan hasil karyanya sudah mendunia, antara lain di bidang Drama Orang-orang di Tikungan Jalan (1954), Bip Bop Rambaterata (Teater Mini Kata) SEKDA (1977), Selamatan Anak Cucu Sulaiman, Mastodon dan Burung Kondor (1972), Hamlet (terjemahan karya William Shakespeare), Macbeth (terjemahan karya William Shakespeare), Oedipus Sang Raja (terjemahan karya Sophokles), Lisistrata (terjemahan), Odipus di Kolonus (terjemahan karya Sophokles), Antigone (terjemahan karya Sophokles), Kasidah Barzanji Perang Troya Tidak Akan Meletus (terjemahan karya Jean Giraudoux), Panembahan Reso (1986) Kisah Perjuangan Suku Naga. Puisi ; Balada Orang-Orang Tercinta (Kumpulan sajak) Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta, Blues untuk Bonnie, Empat Kumpulan Sajak, Jangan Takut Ibu, Mencari Bapak, Nyanyian Angsa, Pamphleten van een Dichter, Perjuangan Suku Naga, Pesan Pencopet kepada Pacarnya, Potret Pembangunan Dalam Puisi, Rendra ; Ballads and Blues Poem (terjemahan), Rick dari Corona, Rumpun Alang-alang, Sajak Potret Keluarga,, Sajak,Rajawali, Sajak Seonggok Jagung, Sajak Seorang Tua tentang Bandung Lautan Api State of Emergency, Surat Cinta Pranala luar. Berkat karya-karyanya, Ia memperoleh berbagai penghargaan. Beberapa diantaranya, yaitu, Juara I Sayembara Penulisan Drama dari Bagian Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta (1954), Hadiah Sastra Nasional BMKN (1956), Hadiah Puisi dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (1957), Anugerah Seni dari Departemen P & K (1969), Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1970) Hadiah Seni dari Akademi Jakarta (1975), Hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1976), Penghargaan Adam Malik (1989) The S.E.A. Write Award (1996), Penghargaan Achmad Bakri (2006). Si Burung Merak ini juga aktif mengikuti di organisasi bela diri, yaitu, anggota Persilatan PGB Bangau Putih.
WS Rendra adalah anak dari pasangan R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah. Ayahnya adalah seorang guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa pada sekolah Katolik, Solo, di samping sebagai dramawan tradisional, sedangkan ibunya adalah penari serimpi di keraton Surakarta. Beliau mendapat pendidikan di Jurusan Sastera Barat Fakultas Sastra UGM (tidak tamat), kemudian memperdalam pengetahuan mengenai drama dan  teater di American Academy of Dramatical Arts, Amerika Syarikat (1964-1967). Sekembali dari Amerika, beliau mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta pada 1967 dan sekaligus menjadi pemimpinnya. Pada perkembangannya, Bengkel Teater dipindahkan oleh Rendrake Deopok,  beralamat Jl. Cipayung Jaya No. 55, Kel. Cipayung, Kecamatan Pancoram Mas, Kota Depok.
Dari Tahun 1971 dan 1979 dia membacakan sajak-sajaknya di Festival Penyair International di Rotterdam. Pada tahun 1985 beliau mengikuti Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman. Kumpulan puisinya; Ballada Orang-orang Tercinta (1956), 4 Kumpulan Sajak (1961), Blues Untuk Bonnie (1971), Sajak-sajak Sepatu Tua (1972), Potret Pembangunan dalam Puisi (1980), Disebabkan Oleh Angin (1993), Orang-orang Rangkasbitung (1993) dan Perjalanan Aminah (1997).

Sabtu, 07 September 2013

Sastrawan Indonesia itu ................

"SASTRAWAN INDONESIA ITU BUMBU MASAK
IA SEBAGAI RASA DAN AROMA
KHAS REMPAH INDONESIA" (Rg. Bagus Warsono) Agus Warsono