Ragam Cinta
Tema cinta, utamanya kepada sang kekasih adalah
tema yang usianya setua sejarah manusia. Lebih tua usianya dari laku pertikaian
dan pembunuhan yang belakangan mewarnai peradaban. Namun sadarkah kita bahwa
laku permusuhan dan pembunuhan yang berperangkat kekerasan fisik, pada awalnya
lahir tersebab oleh suatu alasan yang disebut cinta?
Atas nama cintalah tragedi pertikaian antara Kabil
dan Habil terjadi. Pertikaian yang dilakukan untuk menjadi penanda pembelaan
manusia terhadap apa yang dinamakan cinta. Mengalahkan pembelaan mereka
(manusia Kabil dan Habil) kepada aturan hidup bersama (norma perjodohan yang
difatwakan Adam kala itu). Atas nama
cinta pula kasus pembunuhan yang merampas nyawa seorang anak manusia dilakukan
oleh manusia lainnya, menciderai peradaban, mencoreng makna cinta kepada
sesama.
Meski begitu, selalu saja tema cinta senantiasa
berkembang dan menghiasi sejarah kehidupan dengan beragam latar, gagasan dan
pernak-pernik masalah yang menyertainya. Tiliklah kisah cinta yang dengan
berani tak sudi takluk menghamba pada kekuatan penentang baik yang berasal dari
kuasa keluarga, adat masyarakat mau pun aturan negara. Sebagaimana terkisah
dalam Romeo dan
Juliet --dibuat berdasar cerita dari Italia-- yang ditulis William Shakespeare tahun 1591 hingga 1595. Atau kisah percintaan dari kesusastraan Cina
Klasik, Sampek Engtay yang populer di Indonesia
sejak abad ke-19. Pun kisah sebagaimana
dilakoni Raja Inggris Henry VIII yang demi membela cintanya kepada Anne Boleyn rela mengabaikan
kekuasaan Paus pada tahun 1534.
Ada pula cerita cinta yang menjadi bagian dari
kolaborasi kekuasaan dan kekuatan demi mempertahankan tahta sebagaimana yang
ditebarkan Cleopatara kepada para pemuja cintanya (Julius
Caesar dan Mark Antony) pada jaman Mesir kuno, di samping sejarah cinta yang dijebak menjadi
perangkat intrik politik lantaran nafsu ekspansif yang mendahului tergelarnya
Perang Bubad di Majapahit abad ke-14.
Telah pernah pula tema cinta digarap dengan cara
menyentuh kalbu lantaran kepasrahan mengharu biru tersebab kekalahan dan
kegagalan menghadapinya sebagaimana Sayap-sayap
Patah-nya Kahlil Ghibran. Kisah kegagalan cinta yang menyebabkan
keterpurukan luar biasa, sekaligus memendarkan nilai-nilai keindahan lewat
makna kesejatianya. Makna yang meski semula bernilai pribadi, namun mampu
menginspirasi semua orang bahwa cinta suci senantiasa berdekatan dengan hakekat
keindahan. Keindahan yang terbukti bisa dilahirkan dari rahim mana pun termasuk
dari garba yang bernama siksa dan tragedi
pemujanya.
Kisah cinta juga bisa bermula dari siasat-siasat
kecil para manusia angkuh yang akhirnya mempertemukan mereka dalam suatu
perjumpaan indah. Sebagaimana dalam Lakon Pagi
Bening karya Serafin dan Joaquin Alvarez Quintero. Ia juga dapat lahir dari pertentangan
yang sengit dan menjengkelkan dari alur cerita seunik The Boor karya Anton Chekhov. Pendek kata, beraneka cara dan
pendekatan orang merangkai tema cinta menuju presentasi hakekat yang hendak di
sampaikannya.
Aksara Hati
Agus Warsono lewat Antologi Puisi Bunyikan Aksara Hatimu tak hendak ketinggalan mengupas tema cinta lewat beberapa puisinya. Ia acap
menyerap sari pati tragedi yang terjadi lantaran cinta, menjadi modal dalam
karya puisinya. Sesekali ia merumat getaran duka yang merembes dalam nyeri alur
pikiran dan perasaannya lantaran berhadapan dengan cinta.
Agus Warsono
11.
Bunyikan
Aksara Hatimu
Lama menunggu di peron tawaran
asong tiada
henti
kereta lewat bukan tujuan
karcis kupegang basah ditelapak
sileweran copet bodoh
reka kantong penuh dollar
corong stasiun Jogya kereta terakhir akan tiba
dan lampu tembak menerpa wajah duka
memutih
kau diam menutup jiwa bergolak
tebal kaca bola mata
kereta makin dekat kerikil gemeretak.
Getar badan kurus
hati tersayat iba
bilakah kereta barang yang tiba
menambah kalender karcis kereta
agar masih bersua
mega menggeser pura-pura
menambah deras hujan semata
Namun, tak sebagaimana kebanyakan kreator yang
acap tergoda untuk melatari kisah- cintanya dengan idium keindahan alam, Agus
tidaklah demikian. Meski pada puisi yang mengeksplorasi pemandangan alam
terbukti ia mampu memanfaatkan dengan baik, namun itu tak serta merta
dilakukannya saat meramu puisi-puisi cintanya (sebagaimana orang yang tengah merasakan
pendar-pendar cinta dalam fase apa pun; entah kepahitan, kegetiran atau fase
kebahagiaan).
Agus justru menandai presentasi kisah cintanya
dengan latar stasiun kereta, peron berikut alam benda yang ada di sana. Semua
idium yang ada di wilayah kesibukan stasiun serta peristiwa yang terjadi dalam alur
pulang dan pergi dengan sarana transportasi itu dimanfaatkannya. Menjelma
alasan bagi pembaca untuk tersentuh dengan trenyuh.
Mulai dari diksi normatif serupa peron, kereta,
jadwal keberangkatan dan persimpangan kereta, hingga soal tiket, dan pengeras
suara. Semua ditarik ke suasana duka yang berkontemplasi pada kesunyian getaran
cintanya kala itu. Bahkan termasuk potret kesibukan yang dalam sangkaan dan
pengalaman kita senantiasa ricuh, riuh rendah dan cenderung chaos -- aktivitas para pengasong dan para penghamba
kriminal-- di sana. Semua berhasil ditarik ke wilayah pribadi menjadi bahasa
jiwa yang mengantarkan kegetiran saat mengabarkan cinta.
Idium alam yang pada kecenderungan umum paling
gampang dimanfaatkan untuk membeberkan nuansa cinta pun berhasil dia direct. Meski –menggembirakannya-- tak
banyak ia melakukan hal itu. Tercatat hanya mega
dan hujan yang sudi diambilnya
sekedar untuk menekankan tragedi cintanya di Bunyikan Aksara Hatimu. Selebihnya ia percayakan semua penanda, getar dan
alur kisah cinta yang merembes ke suasana hatinya lewat peron, asong, kereta, karcis, copet, corong stasiun, lampu, karcis kereta.
Namun toh tetap saja kesunyian juga yang tergambar dalam baris puisinya .../ kau diam menutup jiwa bergolak/
.... hingga tetap saja ia
saksikan .../ gigi
menggigit bibir kecil/ .... yang senantiasa mendatangkan hal yang tak
dinginkan .../ menahan bunyi aksara
hatimu./
Pada puisi cinta yang lain, benda-benda
berkeindahan alami secara minimalis (hanya simbol bunga dan kulit jeruk). Itu
pun ia lakukan tanpa keinginan untuk berlama-lama mengeksplorasi atau memujanya
dengan cara membabi buta. Ia menyadari bahwa meski indah, namun anggrek berusia
sangat singkat. Maka sesingkat usia bunga itu ia meramu puisinya hanya dalam
sebait (dengan 7 baris berkarakter pendek). Lantas ia komparasikan dengan kata
kunci verbal kawin yang cenderung
melawan puitika anggrek: .../ ingin aku kawin denganmu./
(Anggrek Pujaan)
Hal itu pun sengaja dilakukannya dalam puisi Kenanga lewat diksi terbuka, langsung
dan sederhana –tergoda-- di baris-baris akhir puisi pendeknya: .../ aku tergoda/ akan
lambaian mahkota kembangmu biru./ (Kenanga).
Keberpihakan Agus untuk mengemukakan pinangan
cintanya dengan cara bersahaja paling nampak saat ia menyodorkan idium kulit
jeruk. Itulah hal utama yang menggejala menjadi semacam ideologinya dalam
bercinta. Ideologi yang sederhana namun esensial fungsi dan maknanya. Bahwa
barang yang dipersembahkannya .../ bukan mahal/
bukan terbaik/ rupa
bentuknya/... tetapi ia
nyatakan dengan keyakinan bahwa barang itu .../ tak ada di pasar minggon/
.... Ia pastikan pula
bahwa barang persembahannya itu .../ dipandang tak bosan/
segar menawan/ sekeping
mungkin kurang/ .... Hingga sesederhana apa pun wujud persembahannya pada cinta, namun
sebagaimana hakekat cinta .../ semoga terawatt/
abadi/ (Anggrek Pujaan).
Selain mengambil idium alam benda semacam itu,
Agus juga mencoba memakai idium peristiwa atau hal-hal terkait suasana lainnya (Catatan Kecil, Pertemuan,
Layang-layang Cinta). Semuanya dengan
kecenderungan penulisan sebait lewat baris-baris puisi yang pendek dan diksi
yang relatif bersahaja. Kecuali pada Kepada Kasihku…… yang sepanjang
2 bait, namun terasa mengalir secara sistematik dalam nuansa puitik.

