Selasa, 27 Agustus 2013

Ragam Cinta pada karya Agus Warsono (Rg Bagus Warsono) DARI CINTA HATI, TERLIBAT DAN MAWAS DIRI Oleh Sosiawan Leak



Ragam Cinta
Tema cinta, utamanya kepada sang kekasih adalah tema yang usianya setua sejarah manusia. Lebih tua usianya dari laku pertikaian dan pembunuhan yang belakangan mewarnai peradaban. Namun sadarkah kita bahwa laku permusuhan dan pembunuhan yang berperangkat kekerasan fisik, pada awalnya lahir tersebab oleh suatu alasan yang disebut cinta?
Atas nama cintalah tragedi pertikaian antara Kabil dan Habil terjadi. Pertikaian yang dilakukan untuk menjadi penanda pembelaan manusia terhadap apa yang dinamakan cinta. Mengalahkan pembelaan mereka (manusia Kabil dan Habil) kepada aturan hidup bersama (norma perjodohan yang difatwakan Adam kala itu).  Atas nama cinta pula kasus pembunuhan yang merampas nyawa seorang anak manusia dilakukan oleh manusia lainnya, menciderai peradaban, mencoreng makna cinta kepada sesama.
Meski begitu, selalu saja tema cinta senantiasa berkembang dan menghiasi sejarah kehidupan dengan beragam latar, gagasan dan pernak-pernik masalah yang menyertainya. Tiliklah kisah cinta yang dengan berani tak sudi takluk menghamba pada kekuatan penentang baik yang berasal dari kuasa keluarga, adat masyarakat mau pun aturan negara. Sebagaimana terkisah dalam Romeo dan Juliet --dibuat berdasar cerita dari Italia-- yang ditulis William Shakespeare tahun 1591 hingga 1595. Atau kisah percintaan dari kesusastraan Cina Klasik, Sampek Engtay yang populer di Indonesia sejak abad ke-19. Pun kisah sebagaimana dilakoni Raja Inggris Henry VIII yang demi membela cintanya kepada Anne Boleyn rela mengabaikan kekuasaan Paus pada tahun 1534.
Ada pula cerita cinta yang menjadi bagian dari kolaborasi kekuasaan dan kekuatan demi mempertahankan tahta sebagaimana yang ditebarkan Cleopatara kepada para pemuja cintanya (Julius Caesar dan Mark Antony) pada jaman Mesir kuno, di samping sejarah cinta yang dijebak menjadi perangkat intrik politik lantaran nafsu ekspansif yang mendahului tergelarnya Perang Bubad di Majapahit abad ke-14.
Telah pernah pula tema cinta digarap dengan cara menyentuh kalbu lantaran kepasrahan mengharu biru tersebab kekalahan dan kegagalan menghadapinya sebagaimana Sayap-sayap Patah-nya Kahlil Ghibran. Kisah kegagalan cinta yang menyebabkan keterpurukan luar biasa, sekaligus memendarkan nilai-nilai keindahan lewat makna kesejatianya. Makna yang meski semula bernilai pribadi, namun mampu menginspirasi semua orang bahwa cinta suci senantiasa berdekatan dengan hakekat keindahan. Keindahan yang terbukti bisa dilahirkan dari rahim mana pun termasuk dari garba yang bernama siksa dan tragedi pemujanya.
Kisah cinta juga bisa bermula dari siasat-siasat kecil para manusia angkuh yang akhirnya mempertemukan mereka dalam suatu perjumpaan indah. Sebagaimana dalam Lakon Pagi Bening karya Serafin dan Joaquin Alvarez Quintero. Ia juga dapat lahir dari pertentangan yang sengit dan menjengkelkan dari alur cerita seunik The Boor karya Anton Chekhov. Pendek kata, beraneka cara dan pendekatan orang merangkai tema cinta menuju presentasi hakekat yang hendak di sampaikannya.

Aksara Hati
Agus Warsono lewat Antologi Puisi Bunyikan Aksara Hatimu tak hendak ketinggalan mengupas tema cinta lewat beberapa puisinya. Ia acap menyerap sari pati tragedi yang terjadi lantaran cinta, menjadi modal dalam karya puisinya. Sesekali ia merumat getaran duka yang merembes dalam nyeri alur pikiran dan perasaannya lantaran berhadapan dengan cinta.

Agus Warsono
11.


Bunyikan Aksara Hatimu

Lama menunggu di peron tawaran asong tiada
henti
kereta lewat bukan tujuan
karcis kupegang basah ditelapak
sileweran copet bodoh
reka kantong penuh dollar
corong stasiun Jogya kereta terakhir akan tiba
dan lampu tembak menerpa wajah duka
memutih
kau diam menutup jiwa bergolak
tebal kaca bola mata
kereta makin dekat kerikil gemeretak.
Getar badan kurus
hati tersayat iba
bilakah kereta barang yang tiba
menambah kalender karcis kereta
agar masih bersua
mega menggeser pura-pura
menambah deras hujan semata

Namun, tak sebagaimana kebanyakan kreator yang acap tergoda untuk melatari kisah- cintanya dengan idium keindahan alam, Agus tidaklah demikian. Meski pada puisi yang mengeksplorasi pemandangan alam terbukti ia mampu memanfaatkan dengan baik, namun itu tak serta merta dilakukannya saat meramu puisi-puisi cintanya (sebagaimana orang yang tengah merasakan pendar-pendar cinta dalam fase apa pun; entah kepahitan, kegetiran atau fase kebahagiaan).
Agus justru menandai presentasi kisah cintanya dengan latar stasiun kereta, peron berikut alam benda yang ada di sana. Semua idium yang ada di wilayah kesibukan stasiun serta peristiwa yang terjadi dalam alur pulang dan pergi dengan sarana transportasi itu dimanfaatkannya. Menjelma alasan bagi pembaca untuk tersentuh dengan trenyuh.
Mulai dari diksi normatif serupa peron, kereta, jadwal keberangkatan dan persimpangan kereta, hingga soal tiket, dan pengeras suara. Semua ditarik ke suasana duka yang berkontemplasi pada kesunyian getaran cintanya kala itu. Bahkan termasuk potret kesibukan yang dalam sangkaan dan pengalaman kita senantiasa ricuh, riuh rendah dan cenderung chaos  -- aktivitas para pengasong dan para penghamba kriminal-- di sana. Semua berhasil ditarik ke wilayah pribadi menjadi bahasa jiwa yang mengantarkan kegetiran saat mengabarkan cinta.
Idium alam yang pada kecenderungan umum paling gampang dimanfaatkan untuk membeberkan nuansa cinta pun berhasil dia direct. Meski –menggembirakannya-- tak banyak ia melakukan hal itu. Tercatat hanya mega dan hujan yang sudi diambilnya sekedar untuk menekankan tragedi cintanya di Bunyikan Aksara Hatimu. Selebihnya ia percayakan semua penanda, getar dan alur kisah cinta yang merembes ke suasana hatinya lewat peron, asong, kereta, karcis, copet, corong stasiun, lampu, karcis kereta. Namun toh tetap saja kesunyian juga yang tergambar dalam baris puisinya .../ kau diam menutup jiwa bergolak/ .... hingga tetap saja ia saksikan .../ gigi menggigit bibir kecil/ .... yang senantiasa mendatangkan hal yang tak dinginkan .../ menahan bunyi aksara hatimu./
Pada puisi cinta yang lain, benda-benda berkeindahan alami secara minimalis (hanya simbol bunga dan kulit jeruk). Itu pun ia lakukan tanpa keinginan untuk berlama-lama mengeksplorasi atau memujanya dengan cara membabi buta. Ia menyadari bahwa meski indah, namun anggrek berusia sangat singkat. Maka sesingkat usia bunga itu ia meramu puisinya hanya dalam sebait (dengan 7 baris berkarakter pendek). Lantas ia komparasikan dengan kata kunci verbal kawin yang cenderung melawan puitika anggrek: .../ ingin aku kawin denganmu./ (Anggrek Pujaan)
Hal itu pun sengaja dilakukannya dalam puisi Kenanga lewat diksi terbuka, langsung dan sederhana –tergoda-- di baris-baris akhir puisi pendeknya: .../ aku tergoda/ akan lambaian mahkota kembangmu biru./ (Kenanga).
Keberpihakan Agus untuk mengemukakan pinangan cintanya dengan cara bersahaja paling nampak saat ia menyodorkan idium kulit jeruk. Itulah hal utama yang menggejala menjadi semacam ideologinya dalam bercinta. Ideologi yang sederhana namun esensial fungsi dan maknanya. Bahwa barang yang dipersembahkannya .../ bukan mahal/ bukan terbaik/ rupa bentuknya/... tetapi ia nyatakan dengan keyakinan bahwa barang itu .../ tak ada di pasar minggon/ .... Ia pastikan pula bahwa barang persembahannya itu .../ dipandang tak bosan/ segar menawan/ sekeping mungkin kurang/ .... Hingga sesederhana apa pun wujud persembahannya pada cinta, namun sebagaimana hakekat cinta .../ semoga terawatt/ abadi/ (Anggrek Pujaan).
Selain mengambil idium alam benda semacam itu, Agus juga mencoba memakai idium peristiwa atau hal-hal terkait suasana lainnya (Catatan Kecil, Pertemuan, Layang-layang Cinta). Semuanya dengan kecenderungan penulisan sebait lewat baris-baris puisi yang pendek dan diksi yang relatif bersahaja. Kecuali pada Kepada Kasihku…… yang sepanjang 2 bait, namun terasa mengalir secara sistematik dalam nuansa puitik. 



Jumat, 16 Agustus 2013

PENDUKUNG BUKU PUISI MENOLAK KORUPSI JILID II

salam,

menetapi edaran yang saya unggah sebelumnya, berikut saya informasikan nama kawan-kawan yang karyanya lolos seleksi untuk penerbitan antologi PUISI MENOLAK KORUPSI Jilid II. tahap selanjutnya untuk proses percetakan/penerbitan antologi tersebut, akan saya informasikan lebih lanjut sesegera mungkin. selamat untuk kawan-kawan.

bagi kawan-kawan yang pada kesempatan ini karyanya belum lolos, dipersilahkan untuk terus tetap mendukung gerakan ini sesuai dengan program yang bisa dilibati. semoga di kesempatan mendatang karya anda berhasil lolos seleksi.

terima kasih.

salam hangat, doa kuat!
sosiawan leak

1. A. Ganjar Sudibyo (Semarang)
2. Aan Setiawan (Banjarbaru)
3. Abah Yoyok (Tangerang)
4. Abdul Aziz HM El Basyroh (Indramayu)
5. Abdurrahman El Husaini (Martapura)
6. Acep Zamzam Noor (Tasikmalaya)
7. Ade Ubaidil Quadraterz (Cilegon)
8. Adi Rosadi (Cianjur)
9. Agus Sighro Budiono (Bojonegoro)
10. Agus R Subagyo/A. Rego S. Ilalang (Nganjuk)
11. Agus Sri Danardana (Pekanbaru)
12. Agus Warsono (Indramayu)
13. Agustav Triono (Purwokerto)
14. Agustinus (Purbalingga)
15. Ahlul Hukmi (Dumai)
16. Ahmad Ardian (Pangkep-Sulsel)
17. Ahmad Daladi (Magelang)
18. Ahmad Samuel Jogawi (Pekalongan)
19. Ahmadun Yosi Herfanda (Jakarta)
20. Akaha Taufan Aminudin (Batu)
21. Akhmad Nurhadi Moekri/ H.a. Nurhadi (Sumenep)
22. Ali Syamsudin Arsi (Banjarbaru)
23. Allex R Nainggolan (Tangerang)
24. Allief Zam Billah (Rembang)
25. Aloeth Pathi (Pati)
26. Alya Salaisha-Sinta (Cikarang)
27. Aming Aminudin (Mojokerto)
28. Andreas Edison (Blitar)
29. Anna Mariyana (Banjarmasin)
30. Andreas Kristoko (Yogjakarta)
31. Anggoro Suprapto (Semarang)
32. Ansar Basuki Balasikh (Cilacap)
33. Ardian Je (Serang)
34. Arba' Karomaini-Sugih Mblegedu (Pati)
35. Ardi Susanti (Tulungagung)
36. Arsyad Indradi (Banjarbaru)
37. Asdar Muis R. M. S.(Makassar)
38. Asmoro Al-Fahrabi (Pasuruan)
39. Asril Koto (Padang)
40. Asyari Muhammad (Jepara)
41. Autar Abdillah (Sidoarjo)
42. Ayu Cipta (Tangerang)
43. A’yat Khalili (Sumenep)
44. Badaruddin Amir (Barru)
45. Bambang Eka Prasetya (Magelang)
46. Bambang Karno (Wonogiri)
47. Barlean Bagus S.A. (Jember)
48. Bontot Sukandar (Tegal)
49. Budhi Setyawan (Bekasi)
50. Chafidh Nugroho/ Hohok (Kudus)
51. D. G. Kumarsana (Lombok Barat)
52. Darman D Hoeri (Malang)
53. Daryat Arya (Cilacap)
54. Denni Melizon (Padang)
55. Diah Setyawati (Tegal)
56. Diah Rofika/ Dee Rofika (Berlin)
57. Diana Roosetindaro (Solo)
58. Didid Endro S (Jepara)
59. Dimas Arika Mihardja (Jambi)
60. Dimas Indiana Senja (Brebes)
61. Dini S. Setyowati (Amsterdam)
62. Dinullah Rayes (Nusa Tenggara Barat)
63. Dulrohim (Purworejo)
64. Dwi Ery Santoso (Tegal)
65. Dwi Haryanta (Jakarta)
66. Dyah Kencono Puspito Dewi (Bekasi)
67. Dyah Narang Huth (Hamburg)
68. Eddie MNS-Soemanto (Padang)
69. Edy Saputra-Syahputra Eye (Blitar)
70. Efendi Saleh (Blitar)
71. Eka Pradhaning (Magelang)
72. Emha Jayabrata (Pekalongan)
73. Endang Setiyaningsih (Bogor)
74. Endang Supriyadi (Depok)
75. Fahrurraji Asmuni (Amuntai-Kalsel)
76. Faizy Mahmoed Haly (Semarang)
77. Fakrunnas Jabbar (Pekanbaru)
78. Fatah Rastafara (Pekalongan)
79. Felix Nesi (Nusa Tenggara Timur)
80. Fendy A. Bura Raja (Sumenep)
81. Ferdi Afrar (Sidoarjo)
82. Fikar W Eda (Aceh)
83. Fransiska Ambar Kristyani Lahir (Semarang)
84. Gia Setiawati Mokobela (Kotamobagu, Sulawesi Utara)
85. Gol A. Gong (Serang)
86. Habibullah Hamim (Pasuruan)
87. Hadikawa (Banjarbaru)
88. Haidar Hafeez (Pasuruan)
89. Hardho Sayoko Spb (Ngawi)
90. Haryono Soekiran (Purbalingga)
91. Hasan Bisri BFC (Jakarta)
93. Hasan B Saidi (Batam)
94. Hasta Indriyana (Bandung)
95. Heny Gunanto (Pemalang)
96. Herman Syahara (Jakarta)
97. Heru Mugiarso (Semarang)
98. Hidayat Raharja (Sumenep)
99. Husnu Abadi (Pekanbaru)
100. Iberamsayah Barbary (Banjarbaru)
101. Ibramsyah Amandit (Barito Kuala)
102. Isbedy Stiawan Z.S. (Lampung)
103. Jefri Widodo (Ngawi)
104. Jhon F Pane (Kotabaru)
105. Johan Bhimo (Sragen)
106. Joko Wahono (Sragen)
107. Jose Rizal Manua (Jakarta)
108. Joshua Igho (Tegal)
109. Jumari HS (Kudus)
110. Juperta Panji Utama (Lampung)
111. Kalsum Belgis/ Bunda Belgis (Martapura)
112. Ken Hanggara (Pasuruan)
113. Kidung Purnama (Ciamis)
114. Kusdaryoko (Banjarnegara)
115. Lara Prasetya Rina (Denpasar)
116. Linda Ramsita Nasir (Bekasi)
117. Lukni Maulana (Semarang)
118. Lukman Mahbubi (Sumenep)
119. M. Amin Mustika Muda (Barito Kuala)
120. M. Andi Virman (Purwokerto)
121. M. Enthieh Mudakir
122. M. Faizi (Sumenep, Madura)
123. M. L. Budi Agung (Temanggung)
124. M. Syarifuddin (Jember)
125. Maria Roeslie (Samarinda)
126. Marlin Dinamikanto (Jakarta)
127. Melur Seruni (Singapura)
128. Memed Gunawan (Jakarta)
129. Micha Adiatma (Solo)
130. Misharudin/Denny Mizhar (Malang)
131. Mubaqi Abdullah (Semarang)
132. Muhammad Rain (Langsa, Aceh)
133. Muhammad Rois Rinaldi (Cilegon)
134. Muhammad Zaini Ratuloli/ Zaeni Boli (Bekasi)
135. Muhary Wahyu Nurba (Makassar)
136. Muhtar S Hidayat (Blora)
137. Mustofa W Hasyim (Yogjakarta)
138. Nabilla Nailur Rahmah (Malang)
139. Najibul Mahbub (Pekalongan)
140. Nike Aditya Putri- Ummu Zahra Abdillah (Cilacap)
141. Novy Noorhayati Syahfida (Tangerang)
142. Nurochman Sudibyo YS (Indramayu)
143. Pekik Sat Siswonirmolo (Kebumen)
144. Priyo Pambudi Utomo (Trenggalek)
145. R. Giryadi (Sidoarjo)
146. R. Valentina Sagala (Bandung)
147. R.B. Edi Pramono (Yogyakarta)
148. Rezqie Muhammad AlFajar (Banjarmasin)
149. Ribut Achwandi (Pekalongan)
150. Ribut Basuki (Surabaya)
151. Rini Ganefa (Semarang)
152. Rivai Adi (Jakarta)
153. Riyanto (Purwokerto)
154. Rohseno Aji Affandi (Solo)
155. Rosiana Putri (Banjarbaru)
156. Rudi Yesus (Yogjakarta)
157. S.A. Susilowati/Budhe Sus (Semarang)
158. Sabahuddin Senin (Kinabalu)
159. Saiful Bahri (Aceh)
160. Saiful Hadjar (Surabaya)
161. Samsuni Sarman (Banjarmasin)
162. Sayyid Fahmi Alathas (Lampung)
163. Serunie Unie (Solo)
164. Soekoso DM (Purworejo)
165. Soetan Radjo Pamoentjak (Batusangkar, Sumbar)
166. Sri Wahyuni (Gresik)
167. Sulis Bambang (Semarang)
168. Sumanang Tirtasujana (Purworejo)
169. Sumasno Hadi (Banjarmasin)
170. Sunaryo Broto (Kaltim)
171. Suroto S Toto (Purworejo)
172. Surya Hardi (Riau)
173. Sus S Hardjono (Sragen)
174. Sutardji Calzoum Bahcri (Jakarta)
175. Suyitna Ethexs (Mojokerto)
176. Syafrizal Sahrun (Medan)
177. Tan Tjin Siong (Batu)
178. Tajuddin Noor Ganie (Banjarmasin)
179. Tarmizi Rumahitam (Batam)
180. Tarni Kasanpawiro (Bekasi)
181. Tengsoe Tjahjono (Surabaya)
182. Thomas Haryanto Soekiran (Purworejo)
183. Titik Kartitiani (Tangerang)
184. Toto St Radik (Serang)
185. Turiyo Ragilputra (Kebumen)
186. Udik Agus DW (Jepara)
187. Udo Z Karzi (Lampung)
188. Wage Tegoeh Wijono (Purwokerto)
189. Wahyu Prihantoro (Ngawi)
190. Wahyu Subakdiono (Bojonegoro)
191. Wanto Tirta (Ajibarang)
192. Wardjito Soeharso (Semarang)
193. Wawan Hamzah Arfan (Cirebon)
194. Wawan Kurn (Makassar)
195. Wijaya Heru Santosa (Kutoarjo)
196. Wyaz Ibn Sinentang/Wahyu Yudi (Ketapang, Kalbar)
197. Yanusa Nugroho (Tangerang)
198. Yatim Ahmad (Kinabalu)
199. Yogira Yogaswara (Bandung)
200. Yudhie Yarcho (Jepara)
201. Zubaidah Djohar (Aceh)

LEAK SOAIAWAN PUNYA KEGIATAN SASTRA SIAPA IKUTAN

  • Penerbitan Antologi
    PUISI MENOLAK KORUPSI Jilid II

    Kawan-kawan,

    Mempertimbangkan desakan sejumlah pihak serta merespon berbagai kalangan utamanya kawan-kawan penulis puisi, saya bakal mengkoordinir penerbitan Antologi PUISI MENOLAK KORUPSI Jilid II.
    Ini merupakan upaya lebih lanjut merangkum puisi bertema anti korupsi yang belum sempat dikirim, lantaran keterbatasan penulisnya mengakses informasi semacam itu (saat saya menerbitkan Antologi PUISI MENOLAK KORUPSI Jilid I, karya 85 Penyair Indonesia, Mei 2013 lalu).
    Berdasar pengajian terhadap proses penerbitan sebelumnya, bagi kawan-kawan yang ingin bergabung dalam Penerbitan Antologi PUISI MENOLAK KORUPSI Jilid II, saya informasikan sejumlah hal:

    1. Kian sistemik & canggihnya laku korupsi, penerbitan ini mendesak dilakukan sebagai media gerakan yang mempresentasikan seruan moral kepada masyarakat, agar secara filosofis dan bermartabat turut mewaspadai munculnya mental korupsi sejak dini, serta mencegah perilaku korup yang lebih akut. Penerbitan ini kita proporsikan sebagai gerakan kultural, melengkapi gerakan yang dilakukan sejumlah masyarakat berikut medianya (hukum, politik, jurnalistik, agama, intelektualitas dll). Penerbitan ini juga menjadi sarana bagi penyair menyatakan sikap tegas menolak korupsi.

    2. Di samping penerbitan, nantinya juga kita kompliti dengan ROAD SHOW (launching, baca puisi, dan diskusi soal korupsi) di beberapa kota, melibatkan pihak yang berkompeten & masyarakat umum. (Detilnya akan kita matangkan bersama).

    3. Kegiatan ini bersifat independen, nirlaba, berdasarkan kemandirian individu yang menjunjung tinggi azas kebersamaan. Oleh karena itu sebagaimana yang terlakoni pada Jilid I, penerbitan ini juga akan dibiayai bersama-sama oleh penyair yang karyanya dimuat dalam antologi itu nantinya.

    4. Di samping mengirim karya bertema anti korupsi, pada tahap selanjutnya (usai seleksi), kawan-kawan yang karyanya lolos saya mohon berkenan mengirim iuran untuk ongkos cetak/penerbitan minimal Rp 150.000,-

    5. Iuran kawan-kawan itu akan saya kembalikan dalam bentuk Buku Antologi PUISI MENOLAK KORUPSI Jilid II, yang jumlah eksemplarnya sebanding dengan nominal iuran tersebut.

    6. Seluruh proses, sejak penerimaan karya, seleksi, hingga managemen administrasi untuk ongkos cetak/ penerbitan akan saya laporkan secara transparan melalui FB: Leak Sosiawan, FB Grup: PUISI MENOLAK KORUPSI, di samping saya kirim ke email kawan-kawan.

    7. Guna menjaga kwalitas penerbitan agar secara tematik dan puitik tetap proporsional sebagai buku puisi, saya akan melakukan seleksi obyektif atas seluruh puisi yang masuk (mohon kebesaran hati dan kerelaan kawan-kawan).

    8. Kesediaan kawan-kawan berpartisipasi dan mengirim karya puisi saya tunggu hingga 31 Juli 2013.

    9. Puisi kawan-kawan sebanyak 5 judul atau lebih (berikut biodata, serta foto diri, alamat email, facebook & no hp) mohon dikirim ke:
    email: sosiawan.leak@yahoo.com
    atau inbox FB: Leak Sosiawan

    Salam hangat, doa kuat!
    Sosiawan Leak

Kamis, 15 Agustus 2013

Agus Warsono bicara mengenai Buku Puisi Menolak Korupsi gagasan Leak Sosiawan

Sastrawan solo , Leak sosiawan, mengajak Indonesia "Kembali ke Jalan yang Benar". Ternyata masih banyak hati nurani orang Indonesia untuk menyelamatkan negeri ini dari wabah yang nyaris menjadi budaya , yakni Korupsi. Setelah Puisi menolak korupsi sukses dalam penerbitan kali ini akan diterbitkan pula Puisi Menolak Korupsi Jilid II yang diharapkan dapat sampai menyentuh hati Indonesia.
Kegiatan ini didukung oleh 201 penyair dari seluruh Tanah Air. Ternyata masih ada nurani untuk menyadarkan Indonesia dari penyakit yang mulai kronis yakni penyakit apa yang disebut korupsi itu.
Lewat Puisi para penyair Indonesia mencoba menasehati, mengkritik, bahkan mencaci Indonesia. Mereka menaruh harapan agar Indonesia Kembali ke Jalan yang Benar.

Sebagai penyair dan juga seorang guru, saya merasa sangat bermanfaat buku semacam ini sebagai buku bacaan siswa, (tentu saja andai isi puisi dari sekian penyair itu memiliki relevansi dengan pendidikan). Kemendikbud yang baru lalu meluncurkan pendidikan karakter bangsa ternyata hanya "slogan verbalis semata",
dan kemudian pendidikan karakter itu ditelan oleh kampanye "Kurikulum baru". Melalui buku bacaan siswa (buku PMK) , bukan tidak mungkin generasi kita pada gilirannya memiliki karakter bangsa yang didalamnya terdapat indikator tidak korupsi.

Oleh karena berkaitan dengan pendidikan terutama dengan budi pekerti generasi muda, maka kemendikbud harus merespon buku kumpulan Puisi Menolak korupsi ini.
Setelah buku jadi, saya akan tawarkan buku ini melalui media kepada Mentri Kemendikbud sebagai buku bacaan siswa atau Kementrian Pemuda atau Kemendagri, apakah mereka memihak kita atau tidak.

Anggaran pendidikan begitu besar, pengadaan buku perpustakaan menempati anggaran yang juga sangat besar , namun karena masih adanya indikasi kearah "korupsi" terutama pihak penerbit dan pimpinan proyek pengadaan buku, jadilah banyak buku-buku perpustakaan hanya hiasan rak perpustakaan tanpa disentuh siswa karena kurang menarik.

Badaruddin Amir Bicara mengenai Buku Puisi Menolak Korupsi

Gagasan Mas Agus Warsono yang ditulis pada salah satu statusnya di dinding FB ini mengenai perlunya buku antologi Puisi Menolak Korupsi menjadi bacaan siswa ( “saya merasa sangat bermanfaat buku semacam ini sebagai buku bacaan siswa...”--MAW ) perlu disambut dengan baik. Bahkan perlu DIPERJUANGKAN (mumpung kata “perjuangan” sangat sakral di bulan kemerdekaan ini). Kalau penerbitan antologi “Puisi Menolak Korupsi” (Jilid I dan II) yang dimotori Leak Sosiawan dkk dan dikuatkan oleh para penyair pendukung boleh disebut sebagai LANGKAH PERTAMA dari upaya menanamkan karakter “bebas (dari) korupsi” kepada generasi muda kita (karena bagaimana mungkin antologi ini dimaksudkan untuk menyadarkan para pejabat yang terlanjur melakukan korupsi sedang kepada hukum saja mereka tidak takut), maka upaya untuk mendesak pemerintah c.q Departemen Pendidikan dan Kebudayaan agar buku ini dapat menjadi bacaan yang disahkan masuk ke lingkungan pendidikan dapat disebut sebagai LANGKAH KEDUA. Upaya ini sudah pasti lebih penting dari sekadar “road show” yang tentunya sasarannya hanyalah orang-orang dewasa dan bukan para koruptor pula.

Kita tahu bahwa untuk urusan “cetak-mencetak” Departemen Pendidikan dan Kebudayaan memiliki tradisi dan dana yang menunjang. Pada departemen tersebut telah lama ada proyek penerbitan buku, mereka bahkan memiliki “Pusat Perbukuan” yang berada di bawah naungan departemen ini. Dana untuk menerbitkan buku tiap tahunnya tidak sedikit. Demikian pula mereka punya keahlian dalam soal cetak mencetak. Mulai dari cetak soal UN (yang kebetulan saja untuk tahun pelajaran lalu mermasalah), cetak bosure untuk informasi berbagai lomba, cetak buklet juknis dan juklat, cetak poster-poster berisi informasi pendidikan dan lain-lain—yang tentunya menggunakan dana tidak sedikit—sering kita lihat hanya berserakan begitu saja di kantor-kantor Dinas Pendidikan maupun di sekolah-sekolah sebelum semuanya menjadi sampah. Kalau dibandingkan dengan biaya cetak buku antologi Puisi Menolak Puisi yang sudah tentu bila dicetak oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan akan dijamin langsung menempati lemari-lemari perpustakaan sekolah yang selanjutnya akan dibaca dan diapresiasi oleh siswa selaku generasi muda dan akan bertahan sampai bertahuin-tahun sebagai buku bacaan-- sudah tentu akan memberi manfaat yang lebih besar ketimbang memperbanyak buku-buku keterampilan dan sudah ketinggalan zaman pula atau buku-buku proyek yang dipaksakan dan (maaf) sedikit ada berbau korupsi itu.

Karea itulah saya sangat setuju kalau gagasan Mas Agus Warsono ini sama-sama kita antar ke gerbang Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (mumpung departemen ini kembali berbudaya) sesuai dengan kemampuan dan kapasitas kita masing-masing. Yang saya maksud dengan kemampuan dan kapasitas kita di sini adalah, kita yang wartawan dan penulis pubikasilah dengan kencar gagasan tersebut, kita yang dosen dapat menggas seminar yang bermuara ke gagasan itu, dan kita yang hanya guru biasa boleh memperkenalkan secara langsung kepada siswa dan kita yang sekadar orang tua dapat merekomendasikan buku ini untuk dibaca oleh anak-anak kita di antara sekian buku bacaannya. Tapi perjuangan besar yang sangat dibutuhkan memang adalah mengantar secara kongkret gagasan itu sampai ke hadapan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan !

Sabtu, 10 Agustus 2013

MASIH ADA NURANI, SASTRAWAN SE INDONESIA BAKAL MENOLAK KORUPSI LEWAT KARYANYA, SASTRAWAN SOLO LEAK SOSIAWAN MENGAJAK INDONESIA KEMBALI KE JALAN YANG BENAR

Sastrawan solo , Leak sosiawan, mengajak Indonesia "Kembali ke Jalan yang Benar", ternyata masih banyak hati nurani orang Indonesia untuk menyelamatkan negeri ini dari wabah yang nyaris menjadi budaya , yakni Korupsi. Setelah Puisi menolak korupsi sukses dalam penerbitan kali ini akan diterbitkan pula Puisi Menolak Korupsi Jilid II yang diharapkan dapat sampai menyentuh hati Indonesia.
Kegiatan ini didukung oleh 201 penyair dari seluruh Tanah Air. Ternyata masih ada nurani untuk menyadarkan Indonesia dari penyakit yang mulai kronis yakni penyakit apayang disebut korupsi iti.
Lewat Puisi para penyair Indonesia mencoba menasehati, mengkritik, bahkan mencaci Indonesia. Mereka yang menaruh harapan agar Indonesia Kembali ke Jalan yang Benar adalah :

1. A. Ganjar Sudibyo (Semarang)
2. Aan Setiawan (Banjarbaru)
3. Abah Yoyok (Tangerang)
4. Abdul Aziz HM El Basyroh (Indramayu)
5. Abdurrahman El Husaini (Martapura)
6. Acep Zamzam Noor (Tasikmalaya)
7. Ade Ubaidil Quadraterz (Cilegon)
8. Adi Rosadi (Cianjur)
9. Agus Sighro Budiono (Bojonegoro)
10. Agus R Subagyo/A. Rego S. Ilalang (Nganjuk)
11. Agus Sri Danardana (Pekanbaru)
12. Agus Warsono (Indramayu)
13. Agustav Triono (Purwokerto)
14. Agustinus (Purbalingga)
15. Ahlul Hukmi (Dumai)
16. Ahmad Ardian (Pangkep-Sulsel)
17. Ahmad Daladi (Magelang)
18. Ahmad Samuel Jogawi (Pekalongan)
19. Ahmadun Yosi Herfanda (Jakarta)
20. Akaha Taufan Aminudin (Batu)
21. Akhmad Nurhadi Moekri/ H.a. Nurhadi (Sumenep)
22. Ali Syamsudin Arsi (Banjarbaru)
23. Allex R Nainggolan (Tangerang)
24. Allief Zam Billah (Rembang)
25. Aloeth Pathi (Pati)
26. Alya Salaisha-Sinta (Cikarang)
27. Aming Aminudin (Mojokerto)
28. Andreas Edison (Blitar)
29. Anna Mariyana (Banjarmasin)
30. Andreas Kristoko (Yogjakarta)
31. Anggoro Suprapto (Semarang)
32. Ansar Basuki Balasikh (Cilacap)
33. Ardian Je (Serang)
34. Arba' Karomaini-Sugih Mblegedu (Pati)
35. Ardi Susanti (Tulungagung)
36. Arsyad Indradi (Banjarbaru)
37. Asdar Muis R. M. S.(Makassar)
38. Asmoro Al-Fahrabi (Pasuruan)
39. Asril Koto (Padang)
40. Asyari Muhammad (Jepara)
41. Autar Abdillah (Sidoarjo)
42. Ayu Cipta (Tangerang)
43. A’yat Khalili (Sumenep)
44. Badaruddin Amir (Barru)
45. Bambang Eka Prasetya (Magelang)
46. Bambang Karno (Wonogiri)
47. Barlean Bagus S.A. (Jember)
48. Bontot Sukandar (Tegal)
49. Budhi Setyawan (Bekasi)
50. Chafidh Nugroho/ Hohok (Kudus)
51. D. G. Kumarsana (Lombok Barat)
52. Darman D Hoeri (Malang)
53. Daryat Arya (Cilacap)
54. Denni Melizon (Padang)
55. Diah Setyawati (Tegal)
56. Diah Rofika/ Dee Rofika (Berlin)
57. Diana Roosetindaro (Solo)
58. Didid Endro S (Jepara)
59. Dimas Arika Mihardja (Jambi)
60. Dimas Indiana Senja (Brebes)
61. Dini S. Setyowati (Amsterdam)
62. Dinullah Rayes (Nusa Tenggara Barat)
63. Dulrohim (Purworejo)
64. Dwi Ery Santoso (Tegal)
65. Dwi Haryanta (Jakarta)
66. Dyah Kencono Puspito Dewi (Bekasi)
67. Dyah Narang Huth (Hamburg)
68. Eddie MNS-Soemanto (Padang)
69. Edy Saputra-Syahputra Eye (Blitar)
70. Efendi Saleh (Blitar)
71. Eka Pradhaning (Magelang)
72. Emha Jayabrata (Pekalongan)
73. Endang Setiyaningsih (Bogor)
74. Endang Supriyadi (Depok)
75. Euis Herni Ismail (Subang)
76. Fahrurraji Asmuni (Amuntai-Kalsel)
77. Faizy Mahmoed Haly (Semarang)
78. Fakrunnas Jabbar (Pekanbaru)
79. Fatah Rastafara (Pekalongan)
80. Felix Nesi (Nusa Tenggara Timur)
81. Fendy A. Bura Raja (Sumenep)
82. Ferdi Afrar (Sidoarjo)
83. Fikar W Eda (Aceh)
84. Fransiska Ambar Kristyani Lahir (Semarang)
85. Gia Setiawati Mokobela (Kotamobagu, Sulawesi Utara)
86. Gol A. Gong (Serang)
87. Habibullah Hamim (Pasuruan)
88. Hadikawa (Banjarbaru)
89. Haidar Hafeez (Pasuruan)
90. Hardho Sayoko Spb (Ngawi)
91. Haryono Soekiran (Purbalingga)
92. Hasan Bisri BFC (Jakarta)
93. Hasan B Saidi (Batam)
94. Hasta Indriyana (Bandung)
95. Heny Gunanto (Pemalang)
96. Herman Syahara (Jakarta)
97. Heru Mugiarso (Semarang)
98. Hidayat Raharja (Sumenep)
99. Husnu Abadi (Pekanbaru)
100. Iberamsayah Barbary (Banjarbaru)
101. Ibramsyah Amandit (Barito Kuala)
102. Isbedy Stiawan Z.S. (Lampung)
103. Jefri Widodo (Ngawi)
104. Jhon F Pane (Kotabaru)
105. Johan Bhimo (Sragen)
106. Joko Wahono (Sragen)
107. Jose Rizal Manua (Jakarta)
108. Joshua Igho (Tegal)
109. Jumari HS (Kudus)
110. Juperta Panji Utama (Lampung)
111. Kalsum Belgis/ Bunda Belgis (Martapura)
112. Ken Hanggara (Pasuruan)
113. Kidung Purnama (Ciamis)
114. Kusdaryoko (Banjarnegara)
115. Lara Prasetya Rina (Denpasar)
116. Linda Ramsita Nasir (Bekasi)
117. Lukni Maulana (Semarang)
118. Lukman Mahbubi (Sumenep)
119. M. Amin Mustika Muda (Barito Kuala)
120. M. Andi Virman (Purwokerto)
121. M. Enthieh Mudakir
122. M. Faizi (Sumenep, Madura)
123. M. L. Budi Agung (Temanggung)
124. M. Syarifuddin (Jember)
125. Maria Roeslie (Samarinda)
126. Marlin Dinamikanto (Jakarta)
127. Melur Seruni (Singapura)
128. Memed Gunawan (Jakarta)
129. Micha Adiatma (Solo)
130. Misharudin/Denny Mizhar (Malang)
131. Mubaqi Abdullah (Semarang)
132. Muhammad Rain (Langsa, Aceh)
133. Muhammad Rois Rinaldi (Cilegon)
134. Muhammad Zaini Ratuloli/ Zaeni Boli (Bekasi)
135. Muhary Wahyu Nurba (Makassar)
136. Muhtar S Hidayat (Blora)
137. Mustofa W Hasyim (Yogjakarta)
138. Nabilla Nailur Rahmah (Malang)
139. Najibul Mahbub (Pekalongan)
140. Nike Aditya Putri- Ummu Zahra Abdillah (Cilacap)
141. Novy Noorhayati Syahfida (Tangerang)
142. Nurochman Sudibyo YS (Indramayu)
143. Pekik Sat Siswonirmolo (Kebumen)
144. Priyo Pambudi Utomo (Trenggalek)
145. R. Giryadi (Sidoarjo)
146. R. Valentina Sagala (Bandung)
147. R.B. Edi Pramono (Yogyakarta)
148. Rezqie Muhammad AlFajar (Banjarmasin)
149. Ribut Achwandi (Pekalongan)
150. Ribut Basuki (Surabaya)
151. Rini Ganefa (Semarang)
152. Rivai Adi (Jakarta)
153. Riyanto (Purwokerto)
154. Rohseno Aji Affandi (Solo)
155. Rosiana Putri (Banjarbaru)
156. Rudi Yesus (Yogjakarta)
157. S.A. Susilowati/Budhe Sus (Semarang)
158. Sabahuddin Senin (Kinabalu)
159. Saiful Bahri (Aceh)
160. Saiful Hadjar (Surabaya)
161. Samsuni Sarman (Banjarmasin)
162. Sayyid Fahmi Alathas (Lampung)
163. Serunie Unie (Solo)
164. Soekoso DM (Purworejo)
165. Soetan Radjo Pamoentjak (Batusangkar, Sumbar)
166. Sri Wahyuni (Gresik)
167. Sulis Bambang (Semarang)
168. Sumanang Tirtasujana (Purworejo)
169. Sumasno Hadi (Banjarmasin)
170. Sunaryo Broto (Kaltim)
171. Suroto S Toto (Purworejo)
172. Surya Hardi (Riau)
173. Sus S Hardjono (Sragen)
174. Sutardji Calzoum Bahcri (Jakarta)
175. Suyitna Ethexs (Mojokerto)
176. Syafrizal Sahrun (Medan)
177. Tan Tjin Siong (Batu)
178. Tajuddin Noor Ganie (Banjarmasin)
179. Tarmizi Rumahitam (Batam)
180. Tarni Kasanpawiro (Bekasi)
181. Tengsoe Tjahjono (Surabaya)
182. Thomas Haryanto Soekiran (Purworejo)
183. Titik Kartitiani (Tangerang)
184. Toto St Radik (Serang)
185. Turiyo Ragilputra (Kebumen)
186. Udik Agus DW (Jepara)
187. Udo Z Karzi (Lampung)
188. Wage Tegoeh Wijono (Purwokerto)
189. Wahyu Prihantoro (Ngawi)
190. Wahyu Subakdiono (Bojonegoro)
191. Wanto Tirta (Ajibarang)
192. Wardjito Soeharso (Semarang)
193. Wawan Hamzah Arfan (Cirebon)
194. Wawan Kurn (Makassar)
195. Wijaya Heru Santosa (Kutoarjo)
196. Wyaz Ibn Sinentang/Wahyu Yudi (Ketapang, Kalbar)
197. Yanusa Nugroho (Tangerang)
198. Yatim Ahmad (Kinabalu)
199. Yogira Yogaswara (Bandung)
200. Yudhie Yarcho (Jepara)
201. Zubaidah Djohar (Aceh)