Senin, 16 Desember 2013

Temu Karya Sastrawan Nusantara

Temu Karya Sastrawan Nusantara
Desember 3, 2013 by Rini Intama 
Alhamdulillah. Terima kasih atas sumbangsih para sahabat dari berbagai provinsi di Nusantara tercinta.
Setelah mencermati 515 karya sahabat-sahabat tercinta, tim penyunting menyampaikan 115 nama sebagaimana terlampir di bawah ini sebagai sastrawan/partisipan yang diundang menghadiri pesta sastra dan lesehan sastra yang akan membincang (kembali) sastra dan sastrawan masuk sekolah
Tim penyunting,
Wowok H. Prabowo
eL Trip Umiuki
Rini Intama
Ayu Cipta
115 Sastrawan/partisipan Temu Karya Sastrawan Nusantara
Aant S. Kawisar Yogyakarta
Abah Yoyok Tangerang
Adriana Tjandra Dewi Jakarta
Agus Warsono Indramayu
Agustav Triono. Purbalingga
Ahmadun Yosi Herfanda Tangerang
Ali Syamsudin Arsi Banjarbaru, Kalsel
Andre Theriqa Tangerang
Arafat AHC Demak
Arif Hidayat Purbalingga
Arinda Risa Kamal Tasikmalaya
Arsyad Indradi Banjarbaru, Kalsel
Ary Nurdiana Ponorogo
Astri Primanita Tangerang
Atin Lelya Sukowati Yogyakarta
Aulia Nur Inayah Tegal
A’yat Khalili Sumenep, Madura
Ayid Suyitno PS Bekasi
Ayu Cipta Tangerang
Azizah Nur Fitriana Medan
Badrul Munir Chair Sumenep, Madura
Bambang Widiatmoko Jakarta
Betta Anugrah Setiani Bogor
Bode Riswandi Tasikmalaya
Budhi Setyawan Bekasi
Cipta Arief Wibawa Medan
Darajatul Ula Tangerang
Dasuki D Rumi Tangerang
Devi Hermasari Yogyakarta
Dharmadi Purwokerto
Didi Kaha Tangerang
Dimas Arika Mihardja Jambi
Dimas Indiana Senja Purwokerto
Dwi Klik Santosa Jakarta
Eko Tunas Semarang
eL Trip Umiuki Tangerang
En kurliadi nf Bekasi
Enes Suryadi Tangerang
Erry Amanda Tangerang
Evan YS Bekasi
F. Pratama Medan
Faizy Mahmoed Haly Semarang
Fatih El Mumtaz Pekanbaru, Riau
Gampang Prawoto Bojonegoro
Gito Waluyo Serang
Gunoto Saparie Semarang
Hardia Rayya Tangerang
Hasan Bisri BFC Jakarta
Hermansyah Adnan Aceh
Husnul Khuluqi Tangerang
Imam Safwan Tanjung, NTB
Irma Agryanti Mataram, NTB
Isbedy Stiawan ZS Tanjungkarang
Ishack Sonlay Kupang
J. Betara Kawhie Cilacap
Julia Hartini Bandung
Kiki Sulistyo Mataram, NTB
Kusnadi Arraihan Yogyakarta
Kyai Matdon Bandung
L.K. Ara Aceh
Lailatul Kiptiyah Jakarta
Lanang Setiawan Tegal
Majenis Panggar Besi Bengkulu
Mariyana Marabahan, Kalsel
Moh Mahfud Banjarmasin, Kalsel
Muhammad Asqalani eNeSTe Pekanbaru, Riau
Muhammad Rois Rinaldi Cilegon
Mustaqiem Eska Palembang
Nana Sastrawan Tangerang
Nani Karyono Bandung
Nani Tandjung Jakarta
Nastain Achmad Attabani Tuban
Niken Kinanti Solo
Noi Bonita (Ade Julia Dewi) Serang
Novy Noorhayati Syahfida Tangerang
Nur Hadi Kaliwungu, Kaltim
Pudwianto Arisanto Jakarta
Qeis Surya Sangkala Tasikmalaya
Raka Mahendra Jakarta
Ratna Ayu Budhiarti Garut
Ria Oktavia Indrawati Depok
Rini Intama Tangerang
Riyanto Purwokerto
Rezqie Muhammad AlFajar Atmanegara Banjarmasin, Kalsel
Sartika Sari Medan
Satmoko Budi Santoso Yogyakarta
Seruni Solo
Shah Kalana Alhaji Samanrinda, Kaltim
Sholichudin al-Gholany Kudus
Shourisha Arashi Cilacap
Sobih Adnan Cirebon
Soekoso DM Purworejo
Sofyan RH. Zaid Bekasi
Sri Runia Komalayani Sukabumi
Sri Wintala Achmad Cilacap
Suryati Syam Bekasi
Sus. S. Hardjono Sragen
Suyitno Ethex Mojokerto
Syarif hidayatullah Barito kuala. Kalsel
Tatang Rudiana Alghifari Tasikmalaya
Tawakal M. Iqbal Bogor
Thomas Haryanto Soekiran Purworejo
Tina K. Jakarta
Tjak S. Parlan Mataram, NTB
Uki Bayu Sedjati Tangerang
Vanera el Arj Wonosobo
Villy J. Roesta Tangerang
Wahyudi Cirebon
Windu Mandela Sumedang
Wyaz Ibn Sinentang Pontianak, Kalbar
Y.S. Agus Suseno Banjarmasin, Kalsel
Yandri Yadi Yansah Lampung
Yudhie Yarcho Jepara
Yuditeha Karanganyar
Yusran Arifin Tasikmalaya

Road Show Puisi Menolak Korupsi Beruntun setiap minggu di Jepara, Sragen & Ngawi

Road Show Puisi Menolak Korupsi Beruntun setiap minggu di Jepara, Sragen & Ngawi
Gerakan Puisi Menolak Korupsi kembali bakal menggelar Road Show Puisi Menolak Korupsi di Jepara, Sragen & Ngawi. Sebelumnya, kegiatan serupa terselenggara di Blitar (18/5/ 2013), Tegal (1-2/6/2013), Banjarbaru (28/6/2013), Palu (7/9/2013), Semarang (17/9/2013), KPK Jakarta (27/9/2013), Solo (18/10/2013), Purworejo (20/10//2013), Pati (15/11/2013), Surabaya (22 Nopember 2013), dan Bojonegoro (23 Nopember 2013)
Gerakan tersebut kita harapkan menjadi sarana penolakan yang tegas terhadap tindak korupsi. Di samping sebagai seruan moral kepada masyarakat agar secara kritis mewaspadai munculnya mental korupsi sejak dini, mencegah perilaku korup yang lebih akut. Demikian dijelaskan oleh Sosiawan Leak koordinator PMK melalui suratnya.

UNDANGAN BERGABUNG DALAM ANTOLOGI PUISI “120 PUISI PENYAIR BOGOR”


Dengan bangga Komunitas Pasar Sastra Leuwiliang (KPSL) mengajak dan mengundang para penyair Bogor untuk bergabung dalam penyusunan sebuah buku antologi puisi “120 Puisi Penyair Bogor”

SAKSIKAN PENTAS MENELUSURI KEJAYAAN NUSANTARAKompleks Candi Surowono Ds. Canggu Kec. Badas Pare Kab. Kediri, 18 Desember 2013 Jam: 19.00 WIB Oleh: Agus R. Subagyo

SAKSIKAN!!! PENTAS KOLABORASI RUMAH ANAK BANGSA PARE, TEATER PADMA KEDIRI, TEATER PANULUH FISIP UNIVERSITAS KADIRI DAN KOMUNITAS KANDANG BANTENG KEDIRI "MENELUSURI JEJAK KEJAYAAN NUSANTARA" Di Kompleks Candi Surowono Ds. Canggu Kec. Badas Pare Kab. Kediri, 18 Desember 2013 Jam: 19.00 WIB "HARTA KARUN" Naskah: Tegar PS Widodo Sutradara: A. Rego S. Ilalang Acara Pembuka: Pembacaan Puisi 1. Rumah Anak Bangsa (Pare) 2. Agus R Subagyo (Nganjuk) 3. Mahendra Pw (Jombang) 4. Bambang Eka Prasetya (Magelang) Pamlet ini sebagai undangan.

Kompleks Candi Surowono Ds. Canggu Kec. Badas Pare Kab. Kediri, 18 Desember 2013 Jam: 19.00 WIB

Jumat, 06 Desember 2013

Road Show Puisi Menolak Korupsi Beruntun setiap minggu di Jepara, Sragen & Ngawi

Gerakan Puisi Menolak Korupsi kembali bakal menggelar Road Show Puisi Menolak Korupsi di Jepara, Sragen & Ngawi. Sebelumnya, kegiatan serupa terselenggara di Blitar (18/5/ 2013), Tegal (1-2/6/2013), Banjarbaru (28/6/2013), Palu (7/9/2013), Semarang (17/9/2013), KPK Jakarta (27/9/2013), Solo (18/10/2013), Purworejo (20/10//2013), Pati (15/11/2013), Surabaya (22 Nopember 2013), dan Bojonegoro (23 Nopember 2013)
Gerakan tersebut kita harapkan menjadi sarana penolakan yang tegas terhadap tindak korupsi. Di samping sebagai seruan moral kepada masyarakat agar secara kritis mewaspadai munculnya mental korupsi sejak dini, mencegah perilaku korup yang lebih akut. Demikian dijelaskan oleh Sosiawan Leak koordinator PMK melalui suratnya.

Rabu, 18 September 2013

Buku-buku Puisi karya Rendra

Stanza dan Blues
Stanza dan blues
Potret Pembangunan dalam Puisi
Potret Pembangunan dalam Puisi
Disebabkan oleh Angin
Disebabkan oleh Angin
Empat Kumpulan Sajak
Empat Kumpulan Sajak
Mencari Bapa
Mencari Bapa
Perjalanan Bu Aminah
Perjalanan Bu Aminah

BUKU BYUKU RENDRA

Sadjak-Sadjak Sepatu Tua
Sadjak-sadjak Sepatu Tua

Ballada Orang-Orang Tercinta
Ballada Orang-orang Tercinta

Blues untuk Bonnie
Blues untuk Bonnie

Puisi-Puisi Rendra
Puisi-Puisi Rendra

RENDRA WS PROFILE

W.S. Rendrabornin Solo, Indonesia November 07, 1935diedAugust 07, 2009gendermalegenrePoetryNonfiction
About this authoredit dataWillibrordus Surendra Broto Rendra (b. November 7 1935) is a famous Indonesian poet who often called by his friends and fans as "The Peacock".He established the Teater Workshop in Yogyakarta during 1967 but also the Teater Rendra Workshop in Depok.His photo here shown Rendra in his room at 1969.
Theatres:* Orang-orang di Tikungan Jalan (1954)* SEKDA (1977)* Mastodon dan Burung Kondor (1972)* Hamlet (Translated from Hamlet by William Shakespeare)* Macbeth (Translated from Macbeth from William Shakespeare)* Oedipus Sang Raja (Translated from Oedipus Rex by Sophokles)* Kasidah Barzanji* Perang Troya Tidak Akan Meletus (Translated from La Guerre de Troie n'aura pas lieu by Jean Giraudoux)Poems:* Jangan Takut Ibu* Balada Orang-Orang Tercinta * Empat Kumpulan Sajak* Rick dari Corona* Potret Pembangunan Dalam Puisi* Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta!* Nyanyian Angsa* Pesan Pencopet kepada Pacarnya* Rendra: Ballads and Blues Poem * Perjuangan Suku Naga* Blues untuk Bonnie* Pamphleten van een Dichter* State of Emergency* Sajak Seorang Tua tentang Bandung Lautan Api* Mencari Bapak* Rumpun Alang-alang* Surat Cinta* Sajak Rajawali* Sajak Seonggok Jagung(less)
Author profile

KECOA PEMBANGUNAN, RENDRA MENOLAK KORUPSI

KECOA PEMBANGUNAN

Kecoa Pembangunan….Salah dagang banyak hutang…….Tata bukunya di tulis di awan…Tata ekonominya ilmu bintang..kecoa…kecoa…ke…co…a…..
Menjadi pencuri….
kecoa…kecoa… ke…co…a….
Merampok negeri ini….
Kecoa…kecoa…ke…co…a…
Hutang pribadi di anggap Hutang Bangsa…
Suara di bungkam agar Dosa Berkuasa…
Kecoa….kecoa… ke…co…a…
Gangsir Bank…
Gangsir Bank, Kenyataannya….
Kecoa…kecoa…ke…co…a…
Marsinah terbunuh, petani di gusur, kenyataannya….
Kecoa Pembangunan,
Kecoa bangsa dan negara
Lebih berbahaya ketimbang raja singa
Lebih berbahaya ketimbang pelacuran
Kabut gelap masa depan,
Kemarau panjang bagi harapan
Kecoa…kecoa… ke…co…a….
Nyatanya macan kandang….
Ngakunya bisa dagang,
Nyatanya banyak hutang
Kecoa…kecoa…ke..co…a…
Kata buku dua versi…
Katanya pemerataan,
Nyatanya monopoli
kecoa…kecoa…ke…co..a…

Dengan senjata monopoli
Dilindungi kekuasaan…
Ngimpi nglindur di sangka Pertumbuhan…
Stabilitas, stabilitas katanya…
Keamanan, ketenangan katanya…
Ngakunya konglomerat
Paspornya empat,

Orang-orang Miskin , WS Rendra

Orang-orang Miskin
Orang-orang miskin di jalan,
yang tinggal di dalam selokan,
yang kalah di dalam pergulatan,
yang diledek oleh impian,
janganlah mereka ditinggalkan.
Angin membawa bau baju mereka.
Rambut mereka melekat di bulan purnama.
Wanita-wanita bunting berbaris di cakrawala,
mengandung buah jalan raya.
Orang-orang miskin. Orang-orang berdosa.
Bayi gelap dalam batin. Rumput dan lumut jalan raya.
Tak bisa kamu abaikan.
Bila kamu remehkan mereka,
di jalan kamu akan diburu bayangan.
Tidurmu akan penuh igauan,
dan bahasa anak-anakmu sukar kamu terka.
Jangan kamu bilang negara ini kaya
karena orang-orang berkembang di kota dan di desa.
Jangan kamu bilang dirimu kaya
bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.
Lambang negara ini mestinya trompah dan blacu.
Dan perlu diusulkan
agar ketemu presiden tak perlu berdasi seperti Belanda.
Dan tentara di jalan jangan bebas memukul mahasiswa.
Orang-orang miskin di jalan
masuk ke dalam tidur malammu.
Perempuan-perempuan bunga raya
menyuapi putra-putramu.
Tangan-tangan kotor dari jalanan
meraba-raba kaca jendelamu.
Mereka tak bisa kamu biarkan.
Jumlah mereka tak bisa kamu mistik menjadi nol.
Mereka akan menjadi pertanyaan
yang mencegat ideologimu.
Gigi mereka yang kuning
akan meringis di muka agamamu.
Kuman-kuman sipilis dan tbc dari gang-gang gelap
akan hinggap di gorden presidenan
dan buku programma gedung kesenian.
Orang-orang miskin berbaris sepanjang sejarah,
bagai udara panas yang selalu ada,
bagai gerimis yang selalu membayang.
Orang-orang miskin mengangkat pisau-pisau
tertuju ke dada kita,
atau ke dada mereka sendiri.
O, kenangkanlah :
orang-orang miskin
juga berasal dari kemah Ibrahim

MENOLAK KORUPSI? RENDRA PERNAH BACAKAN PUISINYA LANGSUNG DI DPR 18 MEI 1998

Aku tulis sajak ini di bulan gelap raja-raja

Bangkai-bangkai tergeletak lengket di aspal jalan
Amarah merajalela tanpa alamat
Kelakuan muncul dari sampah kehidupan
Pikiran kusut membentur simpul-simpul sejarah

O, zaman edan!
O, malam kelam pikiran insan!
Koyak moyak sudah keteduhan tenda kepercayaan
Kitab undang-undang tergeletak di selokan
Kepastian hidup terhuyung-huyung dalam comberan

O, tatawarna fatamorgana kekuasaan!
O, sihir berkilauan dari mahkota raja-raja!
Dari sejak zaman Ibrahim dan Musa
Allah selalu mengingatkan
bahwa hukum harus lebih tinggi
dari ketinggian para politisi, raja-raja, dan tentara

O, kebingungan yang muncul dari kabut ketakutan!
O, rasa putus asa yang terbentur sangkur!
Berhentilah mencari Ratu Adil!
Ratu Adil itu tidak ada. Ratu Adil itu tipu daya!
Apa yang harus kita tegakkan bersama
adalah Hukum Adil
Hukum Adil adalah bintang pedoman di dalam prahara

Bau anyir darah yang kini memenuhi udara
menjadi saksi yang akan berkata:
Apabila pemerintah sudah menjarah Daulat Rakyat
apabila cukong-cukong sudah menjarah ekonomi bangsa
apabila aparat keamanan sudah menjarah keamanan
maka rakyat yang tertekan akan mencontoh penguasa
lalu menjadi penjarah di pasar dan jalan raya

Wahai, penguasa dunia yang fana!
Wahai, jiwa yang tertenung sihir tahta!
Apakah masih buta dan tuli di dalam hati?
Apakah masih akan menipu diri sendiri?
Apabila saran akal sehat kamu remehkan
berarti pintu untuk pikiran-pikiran kalap
yang akan muncul dari sudut-sudut gelap
telah kamu bukakan!

Cadar kabut duka cita menutup wajah Ibu Pertiwi
Airmata mengalir dari sajakku ini.


======
Sajak ini dibuat di Jakarta pada tanggal 17 Mei 1998 dan
dibacakan Rendra di DPR pada tanggal 18 Mei 1998

WS Rendra menjelang kepergiannya

Aku lemas, Tapi berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit
atau gatal
Aku pengin makan tajin
Aku tidak pernah sesak nafas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
untuk punya posisi yang ideal dan wajar
Aku pengin membersihkan tubuhku
dari racun kimiawi
Aku ingin kembali pada jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian
kepada Allah
Tuhan, aku cinta padamu.

MENGENANG WS RENDRA

Penyair kawakan, bernama Willibrordus Surendra Broto Rendra dikenal W.S.Rendra setelah memeluk agama Islam tahun 1970. Lengkapnya Wahyu Sulaiman Rendra. Ia dijuluki si Burung Merak. Kelahiran 7 November 1935 di Solo, Jawa Tengah.
Sederetan hasil karyanya sudah mendunia, antara lain di bidang Drama Orang-orang di Tikungan Jalan (1954), Bip Bop Rambaterata (Teater Mini Kata) SEKDA (1977), Selamatan Anak Cucu Sulaiman, Mastodon dan Burung Kondor (1972), Hamlet (terjemahan karya William Shakespeare), Macbeth (terjemahan karya William Shakespeare), Oedipus Sang Raja (terjemahan karya Sophokles), Lisistrata (terjemahan), Odipus di Kolonus (terjemahan karya Sophokles), Antigone (terjemahan karya Sophokles), Kasidah Barzanji Perang Troya Tidak Akan Meletus (terjemahan karya Jean Giraudoux), Panembahan Reso (1986) Kisah Perjuangan Suku Naga. Puisi ; Balada Orang-Orang Tercinta (Kumpulan sajak) Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta, Blues untuk Bonnie, Empat Kumpulan Sajak, Jangan Takut Ibu, Mencari Bapak, Nyanyian Angsa, Pamphleten van een Dichter, Perjuangan Suku Naga, Pesan Pencopet kepada Pacarnya, Potret Pembangunan Dalam Puisi, Rendra ; Ballads and Blues Poem (terjemahan), Rick dari Corona, Rumpun Alang-alang, Sajak Potret Keluarga,, Sajak,Rajawali, Sajak Seonggok Jagung, Sajak Seorang Tua tentang Bandung Lautan Api State of Emergency, Surat Cinta Pranala luar. Berkat karya-karyanya, Ia memperoleh berbagai penghargaan. Beberapa diantaranya, yaitu, Juara I Sayembara Penulisan Drama dari Bagian Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta (1954), Hadiah Sastra Nasional BMKN (1956), Hadiah Puisi dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (1957), Anugerah Seni dari Departemen P & K (1969), Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1970) Hadiah Seni dari Akademi Jakarta (1975), Hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1976), Penghargaan Adam Malik (1989) The S.E.A. Write Award (1996), Penghargaan Achmad Bakri (2006). Si Burung Merak ini juga aktif mengikuti di organisasi bela diri, yaitu, anggota Persilatan PGB Bangau Putih.
WS Rendra adalah anak dari pasangan R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah. Ayahnya adalah seorang guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa pada sekolah Katolik, Solo, di samping sebagai dramawan tradisional, sedangkan ibunya adalah penari serimpi di keraton Surakarta. Beliau mendapat pendidikan di Jurusan Sastera Barat Fakultas Sastra UGM (tidak tamat), kemudian memperdalam pengetahuan mengenai drama dan  teater di American Academy of Dramatical Arts, Amerika Syarikat (1964-1967). Sekembali dari Amerika, beliau mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta pada 1967 dan sekaligus menjadi pemimpinnya. Pada perkembangannya, Bengkel Teater dipindahkan oleh Rendrake Deopok,  beralamat Jl. Cipayung Jaya No. 55, Kel. Cipayung, Kecamatan Pancoram Mas, Kota Depok.
Dari Tahun 1971 dan 1979 dia membacakan sajak-sajaknya di Festival Penyair International di Rotterdam. Pada tahun 1985 beliau mengikuti Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman. Kumpulan puisinya; Ballada Orang-orang Tercinta (1956), 4 Kumpulan Sajak (1961), Blues Untuk Bonnie (1971), Sajak-sajak Sepatu Tua (1972), Potret Pembangunan dalam Puisi (1980), Disebabkan Oleh Angin (1993), Orang-orang Rangkasbitung (1993) dan Perjalanan Aminah (1997).

Sabtu, 07 September 2013

Sastrawan Indonesia itu ................

"SASTRAWAN INDONESIA ITU BUMBU MASAK
IA SEBAGAI RASA DAN AROMA
KHAS REMPAH INDONESIA" (Rg. Bagus Warsono) Agus Warsono

Selasa, 27 Agustus 2013

Ragam Cinta pada karya Agus Warsono (Rg Bagus Warsono) DARI CINTA HATI, TERLIBAT DAN MAWAS DIRI Oleh Sosiawan Leak



Ragam Cinta
Tema cinta, utamanya kepada sang kekasih adalah tema yang usianya setua sejarah manusia. Lebih tua usianya dari laku pertikaian dan pembunuhan yang belakangan mewarnai peradaban. Namun sadarkah kita bahwa laku permusuhan dan pembunuhan yang berperangkat kekerasan fisik, pada awalnya lahir tersebab oleh suatu alasan yang disebut cinta?
Atas nama cintalah tragedi pertikaian antara Kabil dan Habil terjadi. Pertikaian yang dilakukan untuk menjadi penanda pembelaan manusia terhadap apa yang dinamakan cinta. Mengalahkan pembelaan mereka (manusia Kabil dan Habil) kepada aturan hidup bersama (norma perjodohan yang difatwakan Adam kala itu).  Atas nama cinta pula kasus pembunuhan yang merampas nyawa seorang anak manusia dilakukan oleh manusia lainnya, menciderai peradaban, mencoreng makna cinta kepada sesama.
Meski begitu, selalu saja tema cinta senantiasa berkembang dan menghiasi sejarah kehidupan dengan beragam latar, gagasan dan pernak-pernik masalah yang menyertainya. Tiliklah kisah cinta yang dengan berani tak sudi takluk menghamba pada kekuatan penentang baik yang berasal dari kuasa keluarga, adat masyarakat mau pun aturan negara. Sebagaimana terkisah dalam Romeo dan Juliet --dibuat berdasar cerita dari Italia-- yang ditulis William Shakespeare tahun 1591 hingga 1595. Atau kisah percintaan dari kesusastraan Cina Klasik, Sampek Engtay yang populer di Indonesia sejak abad ke-19. Pun kisah sebagaimana dilakoni Raja Inggris Henry VIII yang demi membela cintanya kepada Anne Boleyn rela mengabaikan kekuasaan Paus pada tahun 1534.
Ada pula cerita cinta yang menjadi bagian dari kolaborasi kekuasaan dan kekuatan demi mempertahankan tahta sebagaimana yang ditebarkan Cleopatara kepada para pemuja cintanya (Julius Caesar dan Mark Antony) pada jaman Mesir kuno, di samping sejarah cinta yang dijebak menjadi perangkat intrik politik lantaran nafsu ekspansif yang mendahului tergelarnya Perang Bubad di Majapahit abad ke-14.
Telah pernah pula tema cinta digarap dengan cara menyentuh kalbu lantaran kepasrahan mengharu biru tersebab kekalahan dan kegagalan menghadapinya sebagaimana Sayap-sayap Patah-nya Kahlil Ghibran. Kisah kegagalan cinta yang menyebabkan keterpurukan luar biasa, sekaligus memendarkan nilai-nilai keindahan lewat makna kesejatianya. Makna yang meski semula bernilai pribadi, namun mampu menginspirasi semua orang bahwa cinta suci senantiasa berdekatan dengan hakekat keindahan. Keindahan yang terbukti bisa dilahirkan dari rahim mana pun termasuk dari garba yang bernama siksa dan tragedi pemujanya.
Kisah cinta juga bisa bermula dari siasat-siasat kecil para manusia angkuh yang akhirnya mempertemukan mereka dalam suatu perjumpaan indah. Sebagaimana dalam Lakon Pagi Bening karya Serafin dan Joaquin Alvarez Quintero. Ia juga dapat lahir dari pertentangan yang sengit dan menjengkelkan dari alur cerita seunik The Boor karya Anton Chekhov. Pendek kata, beraneka cara dan pendekatan orang merangkai tema cinta menuju presentasi hakekat yang hendak di sampaikannya.

Aksara Hati
Agus Warsono lewat Antologi Puisi Bunyikan Aksara Hatimu tak hendak ketinggalan mengupas tema cinta lewat beberapa puisinya. Ia acap menyerap sari pati tragedi yang terjadi lantaran cinta, menjadi modal dalam karya puisinya. Sesekali ia merumat getaran duka yang merembes dalam nyeri alur pikiran dan perasaannya lantaran berhadapan dengan cinta.

Agus Warsono
11.


Bunyikan Aksara Hatimu

Lama menunggu di peron tawaran asong tiada
henti
kereta lewat bukan tujuan
karcis kupegang basah ditelapak
sileweran copet bodoh
reka kantong penuh dollar
corong stasiun Jogya kereta terakhir akan tiba
dan lampu tembak menerpa wajah duka
memutih
kau diam menutup jiwa bergolak
tebal kaca bola mata
kereta makin dekat kerikil gemeretak.
Getar badan kurus
hati tersayat iba
bilakah kereta barang yang tiba
menambah kalender karcis kereta
agar masih bersua
mega menggeser pura-pura
menambah deras hujan semata

Namun, tak sebagaimana kebanyakan kreator yang acap tergoda untuk melatari kisah- cintanya dengan idium keindahan alam, Agus tidaklah demikian. Meski pada puisi yang mengeksplorasi pemandangan alam terbukti ia mampu memanfaatkan dengan baik, namun itu tak serta merta dilakukannya saat meramu puisi-puisi cintanya (sebagaimana orang yang tengah merasakan pendar-pendar cinta dalam fase apa pun; entah kepahitan, kegetiran atau fase kebahagiaan).
Agus justru menandai presentasi kisah cintanya dengan latar stasiun kereta, peron berikut alam benda yang ada di sana. Semua idium yang ada di wilayah kesibukan stasiun serta peristiwa yang terjadi dalam alur pulang dan pergi dengan sarana transportasi itu dimanfaatkannya. Menjelma alasan bagi pembaca untuk tersentuh dengan trenyuh.
Mulai dari diksi normatif serupa peron, kereta, jadwal keberangkatan dan persimpangan kereta, hingga soal tiket, dan pengeras suara. Semua ditarik ke suasana duka yang berkontemplasi pada kesunyian getaran cintanya kala itu. Bahkan termasuk potret kesibukan yang dalam sangkaan dan pengalaman kita senantiasa ricuh, riuh rendah dan cenderung chaos  -- aktivitas para pengasong dan para penghamba kriminal-- di sana. Semua berhasil ditarik ke wilayah pribadi menjadi bahasa jiwa yang mengantarkan kegetiran saat mengabarkan cinta.
Idium alam yang pada kecenderungan umum paling gampang dimanfaatkan untuk membeberkan nuansa cinta pun berhasil dia direct. Meski –menggembirakannya-- tak banyak ia melakukan hal itu. Tercatat hanya mega dan hujan yang sudi diambilnya sekedar untuk menekankan tragedi cintanya di Bunyikan Aksara Hatimu. Selebihnya ia percayakan semua penanda, getar dan alur kisah cinta yang merembes ke suasana hatinya lewat peron, asong, kereta, karcis, copet, corong stasiun, lampu, karcis kereta. Namun toh tetap saja kesunyian juga yang tergambar dalam baris puisinya .../ kau diam menutup jiwa bergolak/ .... hingga tetap saja ia saksikan .../ gigi menggigit bibir kecil/ .... yang senantiasa mendatangkan hal yang tak dinginkan .../ menahan bunyi aksara hatimu./
Pada puisi cinta yang lain, benda-benda berkeindahan alami secara minimalis (hanya simbol bunga dan kulit jeruk). Itu pun ia lakukan tanpa keinginan untuk berlama-lama mengeksplorasi atau memujanya dengan cara membabi buta. Ia menyadari bahwa meski indah, namun anggrek berusia sangat singkat. Maka sesingkat usia bunga itu ia meramu puisinya hanya dalam sebait (dengan 7 baris berkarakter pendek). Lantas ia komparasikan dengan kata kunci verbal kawin yang cenderung melawan puitika anggrek: .../ ingin aku kawin denganmu./ (Anggrek Pujaan)
Hal itu pun sengaja dilakukannya dalam puisi Kenanga lewat diksi terbuka, langsung dan sederhana –tergoda-- di baris-baris akhir puisi pendeknya: .../ aku tergoda/ akan lambaian mahkota kembangmu biru./ (Kenanga).
Keberpihakan Agus untuk mengemukakan pinangan cintanya dengan cara bersahaja paling nampak saat ia menyodorkan idium kulit jeruk. Itulah hal utama yang menggejala menjadi semacam ideologinya dalam bercinta. Ideologi yang sederhana namun esensial fungsi dan maknanya. Bahwa barang yang dipersembahkannya .../ bukan mahal/ bukan terbaik/ rupa bentuknya/... tetapi ia nyatakan dengan keyakinan bahwa barang itu .../ tak ada di pasar minggon/ .... Ia pastikan pula bahwa barang persembahannya itu .../ dipandang tak bosan/ segar menawan/ sekeping mungkin kurang/ .... Hingga sesederhana apa pun wujud persembahannya pada cinta, namun sebagaimana hakekat cinta .../ semoga terawatt/ abadi/ (Anggrek Pujaan).
Selain mengambil idium alam benda semacam itu, Agus juga mencoba memakai idium peristiwa atau hal-hal terkait suasana lainnya (Catatan Kecil, Pertemuan, Layang-layang Cinta). Semuanya dengan kecenderungan penulisan sebait lewat baris-baris puisi yang pendek dan diksi yang relatif bersahaja. Kecuali pada Kepada Kasihku…… yang sepanjang 2 bait, namun terasa mengalir secara sistematik dalam nuansa puitik. 



Jumat, 16 Agustus 2013

PENDUKUNG BUKU PUISI MENOLAK KORUPSI JILID II

salam,

menetapi edaran yang saya unggah sebelumnya, berikut saya informasikan nama kawan-kawan yang karyanya lolos seleksi untuk penerbitan antologi PUISI MENOLAK KORUPSI Jilid II. tahap selanjutnya untuk proses percetakan/penerbitan antologi tersebut, akan saya informasikan lebih lanjut sesegera mungkin. selamat untuk kawan-kawan.

bagi kawan-kawan yang pada kesempatan ini karyanya belum lolos, dipersilahkan untuk terus tetap mendukung gerakan ini sesuai dengan program yang bisa dilibati. semoga di kesempatan mendatang karya anda berhasil lolos seleksi.

terima kasih.

salam hangat, doa kuat!
sosiawan leak

1. A. Ganjar Sudibyo (Semarang)
2. Aan Setiawan (Banjarbaru)
3. Abah Yoyok (Tangerang)
4. Abdul Aziz HM El Basyroh (Indramayu)
5. Abdurrahman El Husaini (Martapura)
6. Acep Zamzam Noor (Tasikmalaya)
7. Ade Ubaidil Quadraterz (Cilegon)
8. Adi Rosadi (Cianjur)
9. Agus Sighro Budiono (Bojonegoro)
10. Agus R Subagyo/A. Rego S. Ilalang (Nganjuk)
11. Agus Sri Danardana (Pekanbaru)
12. Agus Warsono (Indramayu)
13. Agustav Triono (Purwokerto)
14. Agustinus (Purbalingga)
15. Ahlul Hukmi (Dumai)
16. Ahmad Ardian (Pangkep-Sulsel)
17. Ahmad Daladi (Magelang)
18. Ahmad Samuel Jogawi (Pekalongan)
19. Ahmadun Yosi Herfanda (Jakarta)
20. Akaha Taufan Aminudin (Batu)
21. Akhmad Nurhadi Moekri/ H.a. Nurhadi (Sumenep)
22. Ali Syamsudin Arsi (Banjarbaru)
23. Allex R Nainggolan (Tangerang)
24. Allief Zam Billah (Rembang)
25. Aloeth Pathi (Pati)
26. Alya Salaisha-Sinta (Cikarang)
27. Aming Aminudin (Mojokerto)
28. Andreas Edison (Blitar)
29. Anna Mariyana (Banjarmasin)
30. Andreas Kristoko (Yogjakarta)
31. Anggoro Suprapto (Semarang)
32. Ansar Basuki Balasikh (Cilacap)
33. Ardian Je (Serang)
34. Arba' Karomaini-Sugih Mblegedu (Pati)
35. Ardi Susanti (Tulungagung)
36. Arsyad Indradi (Banjarbaru)
37. Asdar Muis R. M. S.(Makassar)
38. Asmoro Al-Fahrabi (Pasuruan)
39. Asril Koto (Padang)
40. Asyari Muhammad (Jepara)
41. Autar Abdillah (Sidoarjo)
42. Ayu Cipta (Tangerang)
43. A’yat Khalili (Sumenep)
44. Badaruddin Amir (Barru)
45. Bambang Eka Prasetya (Magelang)
46. Bambang Karno (Wonogiri)
47. Barlean Bagus S.A. (Jember)
48. Bontot Sukandar (Tegal)
49. Budhi Setyawan (Bekasi)
50. Chafidh Nugroho/ Hohok (Kudus)
51. D. G. Kumarsana (Lombok Barat)
52. Darman D Hoeri (Malang)
53. Daryat Arya (Cilacap)
54. Denni Melizon (Padang)
55. Diah Setyawati (Tegal)
56. Diah Rofika/ Dee Rofika (Berlin)
57. Diana Roosetindaro (Solo)
58. Didid Endro S (Jepara)
59. Dimas Arika Mihardja (Jambi)
60. Dimas Indiana Senja (Brebes)
61. Dini S. Setyowati (Amsterdam)
62. Dinullah Rayes (Nusa Tenggara Barat)
63. Dulrohim (Purworejo)
64. Dwi Ery Santoso (Tegal)
65. Dwi Haryanta (Jakarta)
66. Dyah Kencono Puspito Dewi (Bekasi)
67. Dyah Narang Huth (Hamburg)
68. Eddie MNS-Soemanto (Padang)
69. Edy Saputra-Syahputra Eye (Blitar)
70. Efendi Saleh (Blitar)
71. Eka Pradhaning (Magelang)
72. Emha Jayabrata (Pekalongan)
73. Endang Setiyaningsih (Bogor)
74. Endang Supriyadi (Depok)
75. Fahrurraji Asmuni (Amuntai-Kalsel)
76. Faizy Mahmoed Haly (Semarang)
77. Fakrunnas Jabbar (Pekanbaru)
78. Fatah Rastafara (Pekalongan)
79. Felix Nesi (Nusa Tenggara Timur)
80. Fendy A. Bura Raja (Sumenep)
81. Ferdi Afrar (Sidoarjo)
82. Fikar W Eda (Aceh)
83. Fransiska Ambar Kristyani Lahir (Semarang)
84. Gia Setiawati Mokobela (Kotamobagu, Sulawesi Utara)
85. Gol A. Gong (Serang)
86. Habibullah Hamim (Pasuruan)
87. Hadikawa (Banjarbaru)
88. Haidar Hafeez (Pasuruan)
89. Hardho Sayoko Spb (Ngawi)
90. Haryono Soekiran (Purbalingga)
91. Hasan Bisri BFC (Jakarta)
93. Hasan B Saidi (Batam)
94. Hasta Indriyana (Bandung)
95. Heny Gunanto (Pemalang)
96. Herman Syahara (Jakarta)
97. Heru Mugiarso (Semarang)
98. Hidayat Raharja (Sumenep)
99. Husnu Abadi (Pekanbaru)
100. Iberamsayah Barbary (Banjarbaru)
101. Ibramsyah Amandit (Barito Kuala)
102. Isbedy Stiawan Z.S. (Lampung)
103. Jefri Widodo (Ngawi)
104. Jhon F Pane (Kotabaru)
105. Johan Bhimo (Sragen)
106. Joko Wahono (Sragen)
107. Jose Rizal Manua (Jakarta)
108. Joshua Igho (Tegal)
109. Jumari HS (Kudus)
110. Juperta Panji Utama (Lampung)
111. Kalsum Belgis/ Bunda Belgis (Martapura)
112. Ken Hanggara (Pasuruan)
113. Kidung Purnama (Ciamis)
114. Kusdaryoko (Banjarnegara)
115. Lara Prasetya Rina (Denpasar)
116. Linda Ramsita Nasir (Bekasi)
117. Lukni Maulana (Semarang)
118. Lukman Mahbubi (Sumenep)
119. M. Amin Mustika Muda (Barito Kuala)
120. M. Andi Virman (Purwokerto)
121. M. Enthieh Mudakir
122. M. Faizi (Sumenep, Madura)
123. M. L. Budi Agung (Temanggung)
124. M. Syarifuddin (Jember)
125. Maria Roeslie (Samarinda)
126. Marlin Dinamikanto (Jakarta)
127. Melur Seruni (Singapura)
128. Memed Gunawan (Jakarta)
129. Micha Adiatma (Solo)
130. Misharudin/Denny Mizhar (Malang)
131. Mubaqi Abdullah (Semarang)
132. Muhammad Rain (Langsa, Aceh)
133. Muhammad Rois Rinaldi (Cilegon)
134. Muhammad Zaini Ratuloli/ Zaeni Boli (Bekasi)
135. Muhary Wahyu Nurba (Makassar)
136. Muhtar S Hidayat (Blora)
137. Mustofa W Hasyim (Yogjakarta)
138. Nabilla Nailur Rahmah (Malang)
139. Najibul Mahbub (Pekalongan)
140. Nike Aditya Putri- Ummu Zahra Abdillah (Cilacap)
141. Novy Noorhayati Syahfida (Tangerang)
142. Nurochman Sudibyo YS (Indramayu)
143. Pekik Sat Siswonirmolo (Kebumen)
144. Priyo Pambudi Utomo (Trenggalek)
145. R. Giryadi (Sidoarjo)
146. R. Valentina Sagala (Bandung)
147. R.B. Edi Pramono (Yogyakarta)
148. Rezqie Muhammad AlFajar (Banjarmasin)
149. Ribut Achwandi (Pekalongan)
150. Ribut Basuki (Surabaya)
151. Rini Ganefa (Semarang)
152. Rivai Adi (Jakarta)
153. Riyanto (Purwokerto)
154. Rohseno Aji Affandi (Solo)
155. Rosiana Putri (Banjarbaru)
156. Rudi Yesus (Yogjakarta)
157. S.A. Susilowati/Budhe Sus (Semarang)
158. Sabahuddin Senin (Kinabalu)
159. Saiful Bahri (Aceh)
160. Saiful Hadjar (Surabaya)
161. Samsuni Sarman (Banjarmasin)
162. Sayyid Fahmi Alathas (Lampung)
163. Serunie Unie (Solo)
164. Soekoso DM (Purworejo)
165. Soetan Radjo Pamoentjak (Batusangkar, Sumbar)
166. Sri Wahyuni (Gresik)
167. Sulis Bambang (Semarang)
168. Sumanang Tirtasujana (Purworejo)
169. Sumasno Hadi (Banjarmasin)
170. Sunaryo Broto (Kaltim)
171. Suroto S Toto (Purworejo)
172. Surya Hardi (Riau)
173. Sus S Hardjono (Sragen)
174. Sutardji Calzoum Bahcri (Jakarta)
175. Suyitna Ethexs (Mojokerto)
176. Syafrizal Sahrun (Medan)
177. Tan Tjin Siong (Batu)
178. Tajuddin Noor Ganie (Banjarmasin)
179. Tarmizi Rumahitam (Batam)
180. Tarni Kasanpawiro (Bekasi)
181. Tengsoe Tjahjono (Surabaya)
182. Thomas Haryanto Soekiran (Purworejo)
183. Titik Kartitiani (Tangerang)
184. Toto St Radik (Serang)
185. Turiyo Ragilputra (Kebumen)
186. Udik Agus DW (Jepara)
187. Udo Z Karzi (Lampung)
188. Wage Tegoeh Wijono (Purwokerto)
189. Wahyu Prihantoro (Ngawi)
190. Wahyu Subakdiono (Bojonegoro)
191. Wanto Tirta (Ajibarang)
192. Wardjito Soeharso (Semarang)
193. Wawan Hamzah Arfan (Cirebon)
194. Wawan Kurn (Makassar)
195. Wijaya Heru Santosa (Kutoarjo)
196. Wyaz Ibn Sinentang/Wahyu Yudi (Ketapang, Kalbar)
197. Yanusa Nugroho (Tangerang)
198. Yatim Ahmad (Kinabalu)
199. Yogira Yogaswara (Bandung)
200. Yudhie Yarcho (Jepara)
201. Zubaidah Djohar (Aceh)