Selasa, 27 Agustus 2013

Ragam Cinta pada karya Agus Warsono (Rg Bagus Warsono) DARI CINTA HATI, TERLIBAT DAN MAWAS DIRI Oleh Sosiawan Leak



Ragam Cinta
Tema cinta, utamanya kepada sang kekasih adalah tema yang usianya setua sejarah manusia. Lebih tua usianya dari laku pertikaian dan pembunuhan yang belakangan mewarnai peradaban. Namun sadarkah kita bahwa laku permusuhan dan pembunuhan yang berperangkat kekerasan fisik, pada awalnya lahir tersebab oleh suatu alasan yang disebut cinta?
Atas nama cintalah tragedi pertikaian antara Kabil dan Habil terjadi. Pertikaian yang dilakukan untuk menjadi penanda pembelaan manusia terhadap apa yang dinamakan cinta. Mengalahkan pembelaan mereka (manusia Kabil dan Habil) kepada aturan hidup bersama (norma perjodohan yang difatwakan Adam kala itu).  Atas nama cinta pula kasus pembunuhan yang merampas nyawa seorang anak manusia dilakukan oleh manusia lainnya, menciderai peradaban, mencoreng makna cinta kepada sesama.
Meski begitu, selalu saja tema cinta senantiasa berkembang dan menghiasi sejarah kehidupan dengan beragam latar, gagasan dan pernak-pernik masalah yang menyertainya. Tiliklah kisah cinta yang dengan berani tak sudi takluk menghamba pada kekuatan penentang baik yang berasal dari kuasa keluarga, adat masyarakat mau pun aturan negara. Sebagaimana terkisah dalam Romeo dan Juliet --dibuat berdasar cerita dari Italia-- yang ditulis William Shakespeare tahun 1591 hingga 1595. Atau kisah percintaan dari kesusastraan Cina Klasik, Sampek Engtay yang populer di Indonesia sejak abad ke-19. Pun kisah sebagaimana dilakoni Raja Inggris Henry VIII yang demi membela cintanya kepada Anne Boleyn rela mengabaikan kekuasaan Paus pada tahun 1534.
Ada pula cerita cinta yang menjadi bagian dari kolaborasi kekuasaan dan kekuatan demi mempertahankan tahta sebagaimana yang ditebarkan Cleopatara kepada para pemuja cintanya (Julius Caesar dan Mark Antony) pada jaman Mesir kuno, di samping sejarah cinta yang dijebak menjadi perangkat intrik politik lantaran nafsu ekspansif yang mendahului tergelarnya Perang Bubad di Majapahit abad ke-14.
Telah pernah pula tema cinta digarap dengan cara menyentuh kalbu lantaran kepasrahan mengharu biru tersebab kekalahan dan kegagalan menghadapinya sebagaimana Sayap-sayap Patah-nya Kahlil Ghibran. Kisah kegagalan cinta yang menyebabkan keterpurukan luar biasa, sekaligus memendarkan nilai-nilai keindahan lewat makna kesejatianya. Makna yang meski semula bernilai pribadi, namun mampu menginspirasi semua orang bahwa cinta suci senantiasa berdekatan dengan hakekat keindahan. Keindahan yang terbukti bisa dilahirkan dari rahim mana pun termasuk dari garba yang bernama siksa dan tragedi pemujanya.
Kisah cinta juga bisa bermula dari siasat-siasat kecil para manusia angkuh yang akhirnya mempertemukan mereka dalam suatu perjumpaan indah. Sebagaimana dalam Lakon Pagi Bening karya Serafin dan Joaquin Alvarez Quintero. Ia juga dapat lahir dari pertentangan yang sengit dan menjengkelkan dari alur cerita seunik The Boor karya Anton Chekhov. Pendek kata, beraneka cara dan pendekatan orang merangkai tema cinta menuju presentasi hakekat yang hendak di sampaikannya.

Aksara Hati
Agus Warsono lewat Antologi Puisi Bunyikan Aksara Hatimu tak hendak ketinggalan mengupas tema cinta lewat beberapa puisinya. Ia acap menyerap sari pati tragedi yang terjadi lantaran cinta, menjadi modal dalam karya puisinya. Sesekali ia merumat getaran duka yang merembes dalam nyeri alur pikiran dan perasaannya lantaran berhadapan dengan cinta.

Agus Warsono
11.


Bunyikan Aksara Hatimu

Lama menunggu di peron tawaran asong tiada
henti
kereta lewat bukan tujuan
karcis kupegang basah ditelapak
sileweran copet bodoh
reka kantong penuh dollar
corong stasiun Jogya kereta terakhir akan tiba
dan lampu tembak menerpa wajah duka
memutih
kau diam menutup jiwa bergolak
tebal kaca bola mata
kereta makin dekat kerikil gemeretak.
Getar badan kurus
hati tersayat iba
bilakah kereta barang yang tiba
menambah kalender karcis kereta
agar masih bersua
mega menggeser pura-pura
menambah deras hujan semata

Namun, tak sebagaimana kebanyakan kreator yang acap tergoda untuk melatari kisah- cintanya dengan idium keindahan alam, Agus tidaklah demikian. Meski pada puisi yang mengeksplorasi pemandangan alam terbukti ia mampu memanfaatkan dengan baik, namun itu tak serta merta dilakukannya saat meramu puisi-puisi cintanya (sebagaimana orang yang tengah merasakan pendar-pendar cinta dalam fase apa pun; entah kepahitan, kegetiran atau fase kebahagiaan).
Agus justru menandai presentasi kisah cintanya dengan latar stasiun kereta, peron berikut alam benda yang ada di sana. Semua idium yang ada di wilayah kesibukan stasiun serta peristiwa yang terjadi dalam alur pulang dan pergi dengan sarana transportasi itu dimanfaatkannya. Menjelma alasan bagi pembaca untuk tersentuh dengan trenyuh.
Mulai dari diksi normatif serupa peron, kereta, jadwal keberangkatan dan persimpangan kereta, hingga soal tiket, dan pengeras suara. Semua ditarik ke suasana duka yang berkontemplasi pada kesunyian getaran cintanya kala itu. Bahkan termasuk potret kesibukan yang dalam sangkaan dan pengalaman kita senantiasa ricuh, riuh rendah dan cenderung chaos  -- aktivitas para pengasong dan para penghamba kriminal-- di sana. Semua berhasil ditarik ke wilayah pribadi menjadi bahasa jiwa yang mengantarkan kegetiran saat mengabarkan cinta.
Idium alam yang pada kecenderungan umum paling gampang dimanfaatkan untuk membeberkan nuansa cinta pun berhasil dia direct. Meski –menggembirakannya-- tak banyak ia melakukan hal itu. Tercatat hanya mega dan hujan yang sudi diambilnya sekedar untuk menekankan tragedi cintanya di Bunyikan Aksara Hatimu. Selebihnya ia percayakan semua penanda, getar dan alur kisah cinta yang merembes ke suasana hatinya lewat peron, asong, kereta, karcis, copet, corong stasiun, lampu, karcis kereta. Namun toh tetap saja kesunyian juga yang tergambar dalam baris puisinya .../ kau diam menutup jiwa bergolak/ .... hingga tetap saja ia saksikan .../ gigi menggigit bibir kecil/ .... yang senantiasa mendatangkan hal yang tak dinginkan .../ menahan bunyi aksara hatimu./
Pada puisi cinta yang lain, benda-benda berkeindahan alami secara minimalis (hanya simbol bunga dan kulit jeruk). Itu pun ia lakukan tanpa keinginan untuk berlama-lama mengeksplorasi atau memujanya dengan cara membabi buta. Ia menyadari bahwa meski indah, namun anggrek berusia sangat singkat. Maka sesingkat usia bunga itu ia meramu puisinya hanya dalam sebait (dengan 7 baris berkarakter pendek). Lantas ia komparasikan dengan kata kunci verbal kawin yang cenderung melawan puitika anggrek: .../ ingin aku kawin denganmu./ (Anggrek Pujaan)
Hal itu pun sengaja dilakukannya dalam puisi Kenanga lewat diksi terbuka, langsung dan sederhana –tergoda-- di baris-baris akhir puisi pendeknya: .../ aku tergoda/ akan lambaian mahkota kembangmu biru./ (Kenanga).
Keberpihakan Agus untuk mengemukakan pinangan cintanya dengan cara bersahaja paling nampak saat ia menyodorkan idium kulit jeruk. Itulah hal utama yang menggejala menjadi semacam ideologinya dalam bercinta. Ideologi yang sederhana namun esensial fungsi dan maknanya. Bahwa barang yang dipersembahkannya .../ bukan mahal/ bukan terbaik/ rupa bentuknya/... tetapi ia nyatakan dengan keyakinan bahwa barang itu .../ tak ada di pasar minggon/ .... Ia pastikan pula bahwa barang persembahannya itu .../ dipandang tak bosan/ segar menawan/ sekeping mungkin kurang/ .... Hingga sesederhana apa pun wujud persembahannya pada cinta, namun sebagaimana hakekat cinta .../ semoga terawatt/ abadi/ (Anggrek Pujaan).
Selain mengambil idium alam benda semacam itu, Agus juga mencoba memakai idium peristiwa atau hal-hal terkait suasana lainnya (Catatan Kecil, Pertemuan, Layang-layang Cinta). Semuanya dengan kecenderungan penulisan sebait lewat baris-baris puisi yang pendek dan diksi yang relatif bersahaja. Kecuali pada Kepada Kasihku…… yang sepanjang 2 bait, namun terasa mengalir secara sistematik dalam nuansa puitik. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar